"It doesn't matter who I play. I really try to play against the ball that is coming at me," kata Mirra Andreeva.

>>> Amran Tanggapi Kritik Film Pesta Babi soal Proyek Merauke

Laga ini merupakan semifinal kedua bagi Andreeva di turnamen Grand Slam Paris setelah berhasil mencapai tahap yang sama pada edisi 2024 silam.

"It doesn't matter to me who I'm playing against, so I'm trying to really focus on the game and on the gameplan that I have to use on the court," ucap Mirra Andreeva.

Ketegangan serupa juga meluas ke pertandingan semifinal lainnya yang melibatkan petenis Rusia, Diana Shnaider, setelah dirinya dituduh oleh petenis Ukraina Oleksandra Oliynykova mendukung invasi karena berpartisipasi dalam ajang eksibisi di St Petersburg yang didanai Gazprom.

"I think it's the same as playing in Nazi Germany for Gestapo officers, on the tournament organised by company which built Auschwitz.

There is no difference for me," kata Oleksandra Oliynykova.

Shnaider, yang lolos ke semifinal major pertamanya setelah menundangkan Aryna Sabalenka, membela keputusannya bermain di Rusia sebagai satu-satunya kesempatan untuk tampil di depan keluarganya.

Mantan petenis nomor lima dunia asal Slovakia, Daniela Hantuchova, memberikan analisisnya melalui BBC Radio 5 Live mengenai motivasi besar yang dimiliki para pemain dari wilayah yang sedang berkonflik tersebut.

"This desire comes from there being no other options, when you have war behind your courtyard and you know sport in particular is the only way to escape that," kata Daniela Hantuchova.

Hantuchova menambahkan bahwa latar belakang kehidupan yang keras membentuk ketangguhan mental yang luar biasa bagi keempat semifinalis, termasuk petenis kualifikasi asal Polandia, Maja Chwalinska.

"You don't question anything you are told to do to get where you want to," ujar Daniela Hantuchova.

Rasa lapar akan prestasi dinilai menjadi faktor kunci yang membuat para pemain ini mampu melangkah jauh melampaui prediksi awal.

>>> Prabowo Kunjungi Wisma Danantara, Bahas Teknologi dan Robotik

"The starting point creates this incredible hunger and willingness to do whatever it takes," tutur Daniela Hantuchova.