Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) menegaskan bahwa peningkatan kualitas layanan, perlindungan, dan kepuasan jamaah tetap menjadi prioritas utama.

Hal ini disampaikan meskipun Indonesia tidak masuk dalam daftar penerima The Labaytum Award 2026.

>>> ESDM Belum Terima Laporan Resmi Soal China Tunda Impor Batu Bara

Penghargaan tahunan dari Pemerintah Arab Saudi itu diberikan kepada sejumlah negara, termasuk Malaysia dan Singapura. Indonesia absen dari daftar pemenang yang diumumkan pada Rabu (3/6/2026).

Pemerintah Hormati Keputusan Arab Saudi

Wakil Menteri Haji dan Umrah Dahnil Anzar Simanjuntak menyatakan bahwa penilaian penghargaan merupakan kewenangan penuh otoritas Arab Saudi.

Pemerintah Indonesia menghormati hasil subjektif tersebut.

"Tentu itu adalah wewenang Kerajaan Saudi Arabia.

Kami menghormati subjektivitas dari Kerajaan Saudi Arabia," kata Dahnil di Makkah, Arab Saudi, kepada tim Media Center Haji (MCH).

Ia menjelaskan bahwa keterbukaan media di Indonesia dalam menyampaikan kritik menjadi salah satu catatan Arab Saudi.

Selain itu, aspek kesehatan jamaah dengan jumlah kematian absolut yang tinggi akibat kuota besar 221 ribu orang juga menjadi perhatian.

"Media itu bebas sekali. Kita tentu tidak bisa mengontrol media karena itu prinsip dasar demokrasi," ujar Dahnil.

Pemerintah melaporkan penurunan signifikan angka kematian jamaah pada musim haji tahun ini menjadi sekitar 180-an orang. Penurunan ini berkat penerapan syarat kesehatan yang lebih ketat sebelum keberangkatan.

"Tahun lalu lebih dari 400 orang, sementara tahun ini per hari ini sekitar 180-an. Penurunannya sangat signifikan," tutur Dahnil.

Langkah pengetatan syarat kesehatan ini dinilai dilematis karena antrean haji yang panjang. Namun, kebijakan ini tetap menjadi mandat yang harus diperkuat untuk pelaksanaan ke depan.