Tim nasional Iran menanggung beban paling berat di antara seluruh peserta Piala Dunia 2026.

Kehadiran mereka di Amerika Utara menjadi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya karena negara tuan rumah sedang dalam kondisi perang aktif dengan Iran.

>>> Kecelakaan Motor di Sanur, Kondisi Mantan Petinju Pino Bahari Memprihatinkan

Konflik ini bermula pada 28 February 2026 saat Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang menewaskan lebih dari 1.200 orang serta melukai lebih dari 12.000 orang.

Menteri olahraga Iran sempat menyatakan pembatalan keikutsertaan, namun keputusan tersebut berubah.

Gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku pada 8 April 2026 dan diikuti pembicaraan langsung di Islamabad pada 11 dan 12 April 2026 tanpa menghasilkan kesepakatan.

Di tengah perpanjangan gencatan senjata sementara inilah Iran akhirnya memutuskan untuk tetap bertanding.

Presiden FIFA Gianni Infantino pada 16 April menegaskan bahwa Iran diharapkan tetap berpartisipasi karena telah memenuhi syarat dan bersedia bertanding.

Situasi ini memaksa para pemain Iran bersiap dalam kondisi yang tidak normal.

Tekanan Mental Pemain

Gelandang senior Saeid Ezatolahi mengungkapkan realita yang dihadapi timnya di sela sesi latihan di Antalya, Turki.

Pemain berusia 29 tahun ini mengakui pengalaman tampil di tiga Piala Dunia sedikit membantu, meski beban mental tetap terasa besar.

"Terus terang, ini tidak mudah.

Ini akan menjadi Piala Dunia ketiga saya, jadi bagi saya dan beberapa pemain lainnya, mungkin lebih mudah untuk mengelola hal-hal seperti ini," ujar Ezatolahi.

"Tapi pada akhirnya, ini akan tetap sulit bagi kami karena pada saat yang sama, kami mengikuti berita dari negara kami, dan hal-hal politik tentu bisa mempengaruhi pikiran para pemain dan masyarakat."