Nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga mendekati Rp 18.000 per dolar AS berpotensi menekan kinerja emiten sektor otomotif di Indonesia.

Industri ini masih sangat bergantung pada impor komponen dan bahan baku.

>>> Ducati Indonesia Pindahkan Showroom ke Pondok Indah, Hadirkan Layanan Servis Premium

Head of Corporate Communications Astra, Windy Riswantyo, menjelaskan bahwa depresiasi rupiah berisiko mengganggu daya beli masyarakat, performa penjualan, hingga margin keuntungan.

Namun, portofolio bisnis Astra yang terdiversifikasi memberikan natural hedge karena memiliki eksposur dalam rupiah dan dolar AS.

Manajemen Astra mengandalkan pendapatan dari aktivitas ekspor untuk menyeimbangkan dampak volatilitas valuta asing. Perusahaan juga menerapkan strategi lindung nilai dan instrumen keuangan secara disiplin.

Analis Kiwoom Sekuritas, Adrian Djie, menilai pelemahan rupiah mempertinggi risiko kualitas pembiayaan dan menaikkan beban biaya komponen impor.

Perusahaan dengan basis produksi lokal yang kuat diproyeksikan lebih tangguh.

Ia merekomendasikan buy saham ASII dengan target harga Rp 7.100 untuk jangka panjang. Menurutnya, ASII cukup resilien berkat diversifikasi bisnis.

>>> Penjualan Subaru WRX Melonjak 148% Setelah Pemangkasan Harga

Analis Elandry juga menyampaikan pandangan serupa mengenai potensi kenaikan biaya produksi yang menekan margin profitabilitas emiten otomotif.

Emiten seperti IMAS dan ASII dinilai rentan karena paparan valas yang tinggi.

Berbeda dengan sektor kendaraan, emiten komponen PT Selamat Sempurna Tbk (SMSM) justru meraup keuntungan dari depresiasi rupiah. Sekitar 65% penjualan mereka menyasar pasar ekspor berbasis dolar AS.

Wakil Direktur Utama SMSM, Ang Andri Pribadi, mengatakan bahwa kenaikan biaya impor untuk 60% bahan baku berhasil diimbangi oleh lonjakan pendapatan ekspor.

Hingga saat ini, perusahaan belum melihat dampak negatif signifikan.

>>> Kenaikan Biaya Produksi, Auto2000 Naikkan Harga Suku Cadang Toyota

Manajemen SMSM fokus menjalankan program efisiensi operasional dan menjaga keberlanjutan rantai pasok. Emiten ini juga memiliki ruang menyesuaikan harga jual produk secara selektif sebesar 5% hingga 10%.