Pameran Wayang Bank Indonesia Sorot Resiliensi Ekonomi Lewat Seni di Masa Krisis 1930-an
Bank Indonesia melalui Museum Bank Indonesia resmi membuka pameran bertajuk "Iŋ Lakon: Wayang Wong Dadi Saksi" pada Rabu (3/6/2026).
Pameran ini berlangsung hingga 30 Agustus 2026 di Museum Bank Indonesia, Jakarta.
>>> Apakah Film Monster Pabrik Rambut (2026) Bakal Lanjut Season 2?
Acara ini mengangkat hubungan erat antara seni wayang orang dengan dinamika ekonomi nasional dan sejarah bank sentral.
Pengunjung diajak menyelami peran wayang sebagai saksi bisu perjalanan mata uang di Indonesia.
Wayang Orang di Tengah Krisis Ekonomi 1930-an
Pada awalnya, wayang orang merupakan kesenian sakral yang hanya bisa dinikmati kalangan keraton. Akses publik mulai terbuka setelah tokoh Tionghoa Gan Kam mengomersialisasikan kesenian ini.
Saat krisis ekonomi hebat atau malaise pada 1930-an, popularitas wayang orang melonjak tajam. Masyarakat yang mengalami tekanan ekonomi justru menjadikan pertunjukan ini sebagai hiburan pelepas stres.
Menurut tim kurator, di tengah maraknya PHK dan penurunan daya beli, minat terhadap wayang orang tetap tinggi. Para seniman pun mengandalkan pendapatan dari pagelaran untuk bertahan hidup.
Wayang dalam Lembaran Uang Kertas
Pemerintah kolonial Hindia Belanda kemudian memanfaatkan fenomena ini untuk menunjukkan kepedulian di tengah krisis.
De Javasche Bank, cikal bakal bank sentral, mulai mencetak uang kertas dengan ilustrasi wayang orang.
>>> Trionda, Bola Pintar Piala Dunia 2026 yang Siap Ubah Laga
Langkah ini bertujuan mengangkat identitas lokal sekaligus melestarikan kesenian nusantara melalui alat tukar.
Sani Eka Duta, Direktur Departemen Komunikasi Bank Indonesia, menekankan pentingnya melestarikan warisan budaya ini di tengah modernisasi.
Bank Indonesia merasa bertanggung jawab menjaga dan memperkenalkan kembali budaya tersebut ke publik. Wayang orang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa dan sistem keuangan.
Kegiatan dan Kolaborasi Istimewa
Pameran ini didukung penuh oleh Keraton Yogyakarta dan Mangkunegaran yang meminjamkan berbagai koleksi seni. Kolaborasi ini memperkuat keotentikan artefak yang dipajang.
Selain pameran utama, tersedia workshop seni, walking tour, crafting workshop, treasure hunt, dan sesi story telling. Seluruh jadwal akan diumumkan melalui media sosial resmi Museum Bank Indonesia.
Gusti Kanjeng Ratu Bendara dari Keraton Yogyakarta mengapresiasi konsep pameran yang mengaitkan sejarah mata uang lama dengan budaya.
>>> Dolar AS Tembus Rp18.000, Tagar Protes Netizen Mendominasi X
Beliau berharap pameran ini menarik minat generasi muda mempelajari sejarah dari berbagai sudut pandang.
Update Terbaru
Trailer Baru Mushoku Tensei Season 3 Perkenalkan Lagu Ending oleh Mika Nakashima
Kamis / 04-06-2026, 18:07 WIB
Siberia: Petualangan Keanu Reeves Mengejar Berlian di Trans TV
Kamis / 04-06-2026, 18:07 WIB
Isu Pencopotan Purbaya Yudhi Sadewa Beredar, Nama Inisial CB Disebut Calon Pengganti Menkeu
Kamis / 04-06-2026, 18:07 WIB
Acer Swift Air 14: Laptop AI Tipis dengan Baterai 19 Jam dan NPU 17 TOPS
Kamis / 04-06-2026, 18:06 WIB
Bung Towel Soroti Absennya Adam Alis dan Ricky Fajrin di Skuad Timnas Pilihan Herdman
Kamis / 04-06-2026, 18:03 WIB
Serbuan Truk Impor China Gerus Bisnis Karoseri Tambang Hingga 30 Persen
Kamis / 04-06-2026, 17:59 WIB
Daftar Harga Motor Bebek Juni 2026: Yamaha dan Suzuki Naik, TVS Paling Murah
Kamis / 04-06-2026, 17:58 WIB
Gencatan Senjata Lebanon-Israel Dorong Harga Minyak Turun ke US$97,14
Kamis / 04-06-2026, 17:57 WIB
Bansos Kemensos Mei 2026: Cek Nama Penerima dan Besaran Bantuan
Kamis / 04-06-2026, 17:56 WIB
Kreator God of War Asli Kecam Spin-off Laufey: 'Seperti Game Fantasi Generik'
Kamis / 04-06-2026, 17:48 WIB
Knicks Ciptakan Rekor Tandang Usai Kalahkan Spurs di Final
Kamis / 04-06-2026, 17:35 WIB
Jetour T2 Catat Distribusi 1.000 Unit, Jadi Andalan Pasar SUV Indonesia
Kamis / 04-06-2026, 17:34 WIB






