Berkebun di perkotaan bukan sekadar menanam benih dan menunggu panen. Anggota Tani Kota Sejati-58 Kebagusan menjalani proses panjang untuk menghijaukan lahan yang dulunya tempat pembuangan sampah liar.

Andhi, penggerak komunitas tersebut, menceritakan bahwa lahan yang kini hijau dengan sayuran, pohon buah, dan kolam ikan dulunya penuh sampah rumah tangga.

>>> 5 Warna Rambut yang Cocok untuk Kulit Sawo Matang, Wajah Jadi Fresh dan Gak Kusam

Langkah pertama yang mereka lakukan bukan menanam, melainkan memulihkan tanah. "Kondisi tanahnya waktu itu parah banget.

Musim panas kering pecah-pecah, kalau musim hujan lengket seperti lumpur," kata Andhi.

Tanah yang bertahun-tahun menjadi tempat pembuangan sampah kehilangan kemampuan menyerap air dan menyimpan unsur hara. Dampaknya terasa saat panen pertama tidak berjalan sesuai harapan.

Tanaman tumbuh, tetapi kualitasnya belum optimal. Dari situ mereka belajar bahwa memulihkan lahan membutuhkan waktu.

Tanah dibenahi sedikit demi sedikit agar layak menjadi media tanam.

Proses pemulihan menyimpan kejutan. Saat menggali tanah untuk kolam ikan, mereka masih menemukan barang rumah tangga terkubur.

>>> Pemain Keturunan Surabaya di VfB Stuttgart Masuk Radar Naturalisasi Timnas Indonesia

"Waktu bikin kolam, Pak Ali menemukan kasur Palembang. Padahal tanahnya sudah digali sekitar 50 sentimeter," ujar Andhi.

Belajar dari Panen yang Gagal

Setelah kondisi tanah membaik, tantangan berikutnya adalah hama. Andhi bercerita, mereka pernah menanam timun suri.

Ketika buah mulai membesar, mereka menunda panen satu atau dua hari agar matang sempurna.

Namun, keesokan paginya hasil panen sudah lebih dulu dimakan tikus. "Waktu itu kami pikir tinggal tunggu satu dua hari lagi.

Besok paginya sudah dimakan tikus," katanya.

>>> Shin Tae-yong Blak-blakan: Persija Belum Ideal Jelang Piala Presiden 2026

Pengalaman itu mendorong mereka mencari cara agar tanaman lebih terlindungi. Kegagalan panen menjadi bagian dari proses belajar mengelola kebun di tengah kota.