Ekosistem transportasi daring, termasuk ojek online (ojol) dan taksi online, memberikan dampak ekonomi signifikan bagi Indonesia. Riset terbaru mencatat sektor ini menyumbang angka fantastis terhadap pendapatan negara.

Penelitian dilakukan oleh Paramadina Public Policy Institute (PPPI) bersama Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).

>>> IHSG Anjlok 4,11 Persen ke 5.941, Mayoritas Saham Merah

Studi ini memotret sejauh mana layanan berbasis aplikasi menggerakkan roda ekonomi nasional.

Kontribusi Besar terhadap PDB

Kepala Pusat Makroekonomi INDEF, Rizal Taufikurahman, memaparkan kontribusi ekonomi transportasi online mencapai 2,37 persen. Angka itu setara Rp565 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Nilai tersebut dihitung berdasarkan nilai tambah yang dihasilkan industri ojol. Sektor transportasi secara keseluruhan merasakan dampak pengganda yang kuat dari aktivitas ini.

Rincian kontribusi ekonomi ekosistem transportasi online: total kontribusi terhadap PDB Rp565 triliun (2,37%), sektor transportasi darat Rp169 triliun, layanan kendaraan roda dua (ojol) Rp270 triliun, dan layanan kendaraan roda empat (taksi online) Rp127 triliun.

Data menunjukkan layanan ojol memegang peranan lebih dominan dibandingkan taksi online. Perputaran uang di sektor roda dua hampir dua kali lipat dari roda empat.

Rizal menekankan kontribusi 2,4 persen terhadap PDB bukan angka kecil bagi industri digital. Selain dampak langsung, ekosistem ini menciptakan efek limpahan ke berbagai sektor lain.

Penyerapan Jutaan Tenaga Kerja

Sektor ojol tidak hanya menyumbang nilai materi, tetapi juga solusi nyata dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Riset mencatat jutaan orang menggantungkan hidupnya langsung melalui platform digital.

Setidaknya 2,91 juta tenaga kerja terserap langsung sebagai pengemudi di ekosistem transportasi online. Meski sebagian besar berstatus pekerja informal, peran mereka sangat krusial.