Selain sesi utama, konferensi juga mencakup sesi paralel yang diikuti 28 presenter dari berbagai institusi. Rektor memberikan apresiasi kepada para peneliti yang memaparkan hasil kajian terbaru.

Partisipasi mahasiswa internasional menjadi sinyal positif bagi atmosfer akademik di UIN Saizu. Hal ini menunjukkan kepedulian terhadap ilmu pengetahuan tidak lagi dibatasi sekat geografis.

Pandangan Akademisi Malaysia dan Filipina

Dr. Nik Suhaida Nik A. Majid dari USIM menyatakan terima kasih atas sambutan pihak kampus.

Ia menilai ICONTREES memiliki makna lebih dalam dari sekadar pertemuan ilmiah.

>>> Tiket Gratis Ancol 8-19 Juni 2026: Syarat dan Cara Pesan

Menurutnya, konferensi ini berfungsi sebagai wadah mempererat persaudaraan dan pertukaran budaya antarnegara. Ia berharap jalinan komunikasi antara UIN Saizu dan USIM terus membuahkan kolaborasi produktif.

Dr. Nik Suhaida menambahkan bahwa hubungan antarperguruan tinggi tidak boleh berhenti pada dokumen. Kerja sama harus diwujudkan dalam aksi nyata seperti penelitian bersama dan program pengabdian masyarakat.

Prof. Julkipli M. Wadi dari University of the Philippines membagikan pandangan tentang tantangan masa depan.

Ia menyoroti bagaimana teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI) dan robotika akan mengubah lanskap kehidupan manusia dan studi Islam.

Menurutnya, lembaga pendidikan Islam harus bergerak cepat agar tidak tertinggal oleh transformasi global. Generasi muda perlu disiapkan agar mahir dalam penguasaan teknologi digital dan nanoteknologi.

Nilai-nilai dasar Islam harus tetap menjadi fondasi di tengah arus modernisasi. Kurikulum pendidikan perlu disesuaikan agar relevan dengan kebutuhan industri dan zaman.

Prof. Julkipli merasa memiliki kedekatan emosional dan budaya yang kuat dengan Indonesia. Forum seperti ICONTREES dinilai strategis untuk merumuskan arah masa depan kajian Islam di Asia Tenggara.