Media sosial tengah dihebohkan dengan kasus dugaan pemalsuan identitas dan riset yang dilakukan oleh oknum ilmuwan Indonesia di sebuah konferensi internasional.

Kasus ini pertama kali terungkap setelah peneliti Indonesia, Ida Bagus Mandhara Barsika dan Hanifah Fajri Maharani, menemukan kejanggalan saat mengikuti konferensi International Society of Pneumonia & Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark.

>>> Profil Selebgram Woodyrman yang Jadi Tersangka Penganiayaan WN Brunei Hingga Tewas

Melalui Instagram pribadinya, Mandhara dan Hanifah menyebut adanya tim peneliti Indonesia yang diduga melakukan pemalsuan.

Tim tersebut terdiri dari Prihatini, Dimas Fajar Prasetyo, Aminatus Saadah, dan Riana Dwi Kurniati.

"Beberapa orang Indonesia ketahuan melakukan pemalsuan terorganisir di depan ribuan ilmuwan dunia," tulis Mandhara dalam unggahannya, Selasa (26/5/2026).

Menurutnya, salah satu pelaku melakukan pemalsuan identitas dengan berganti-ganti nama saat presentasi, hanya bermodal ganti jilbab dan nametag.

Tidak hanya identitas, riset yang dipresentasikan juga diduga palsu.

Riset Palsu Buatan AI

Terduga pelaku diduga membuat abstrak penelitian dari riset yang tidak pernah ada. Data yang disajikan pun diduga palsu dan dibuat menggunakan kecerdasan buatan (AI).

>>> Kasus Pelecehan Michael Jackson Akan Diangkat dalam Serial Dokumenter Netflix

"Lokasi riset tidak masuk akal: Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Jordan, Bangladesh, South Sudan, Philippines, Kenya, Nepal, Malawi, India Utara.

Tapi perisetnya semua Indonesia, tanpa kolaborator setempat, tanpa keterangan persetujuan etik," jelas Mandhara.

Motif para ilmuwan bodong ini diduga untuk mendapatkan dana travel grant atau uang perjalanan, serta dana riset yang nilainya tidak sedikit.

Travel grant bisa berkisar Rp3 juta hingga Rp25 juta tergantung penyelenggara dan jarak tujuan, sedangkan dana riset berkisar jutaan hingga miliaran rupiah.

"Dengan cara ini, pelaku mendapatkan dana travel grant yang membuat mereka bisa keluar negeri 'gratis'.

Gratis, karena yang 'bayar' mahal adalah Indonesia yang nama baiknya rusak di mata ilmuwan dunia," tegasnya.

>>> Bukan Sukuna, Ini 5 Villain di Anime yang Disebut Punya Kekuatan Lebih Gila

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan dari terduga pelaku. Pihak pemerintah mengaku belum menerima laporan terkait skandal ini.