Di saat yang sama, kelompok masyarakat yang berada tepat di bawah kelas menengah atau aspiring middle class justru bertambah. Perubahan ini menunjukkan bahwa sebagian masyarakat belum mampu mempertahankan posisi ekonominya setelah berhasil naik ke kelompok menengah.

Fenomena tersebut bukan peristiwa yang muncul dalam waktu singkat. Setelah pandemi Covid-19, sejumlah kajian mencatat berkurangnya jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia. Kondisi itu menjadi tanda bahwa mobilitas ekonomi menghadapi tantangan yang semakin berat.

Paradoks di Tengah Pertumbuhan

Indonesia berhasil menekan angka kemiskinan dan menjaga laju pertumbuhan ekonomi. Namun perkembangan itu belum sepenuhnya diikuti oleh penguatan kelas menengah.

Padahal, dalam banyak pengalaman negara yang berhasil mencapai tingkat pendapatan tinggi, kelas menengah menjadi salah satu fondasi utama pembangunan. Kelompok ini berperan sebagai penggerak konsumsi, pembayar pajak, pengguna layanan pendidikan, hingga sumber lahirnya pelaku usaha baru.

Jika ukuran kelas menengah terus menyusut, proses transformasi ekonomi menuju negara maju berpotensi berjalan lebih lambat.

Empat Sumber Tekanan Utama

Tekanan pertama berasal dari pertumbuhan pendapatan yang tidak mampu mengejar kenaikan biaya hidup. Kenaikan gaji yang terjadi secara nominal sering kali habis terserap oleh kebutuhan rutin yang semakin mahal.

Akibatnya, kemampuan rumah tangga untuk menabung dan membangun aset menjadi semakin terbatas. Sebagian besar pendapatan digunakan untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Faktor kedua berkaitan dengan perubahan pasar kerja. Pekerjaan baru memang terus muncul, tetapi banyak di antaranya berada di sektor informal atau berbasis platform digital yang tidak selalu memberikan kepastian pendapatan jangka panjang.

Bagi keluarga kelas menengah, stabilitas penghasilan menjadi pertimbangan utama. Ketika kepastian itu berkurang, konsumsi cenderung ditahan dan tabungan diperbesar sebagai langkah berjaga-jaga.