Daya Beli Kelas Menengah Tertekan, Ancaman bagi Target Indonesia Emas 2045

Angka pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di level yang relatif terjaga. Inflasi terkendali dan berbagai program stimulus terus dijalankan pemerintah. Namun di tengah indikator makro yang tampak stabil, banyak keluarga kelas menengah merasakan tekanan yang berbeda dalam kehidupan sehari-hari.

Pendapatan yang diperoleh tidak lagi memberikan ruang yang sama seperti beberapa tahun lalu. Kenaikan biaya pendidikan, kesehatan, perumahan, transportasi, hingga kebutuhan digital membuat sebagian rumah tangga harus menata ulang prioritas pengeluaran mereka.

Gejala tersebut terlihat dari kecenderungan masyarakat menunda pembelian barang bernilai besar, mengurangi anggaran rekreasi, hingga beralih ke produk dengan harga yang lebih rendah. Dampaknya mulai dirasakan sejumlah sektor usaha, mulai dari ritel, pusat perbelanjaan, restoran, hingga properti.

Yang menjadi perhatian, tekanan tersebut justru terjadi pada kelompok yang selama ini menopang konsumsi domestik, yakni kelas menengah. Ketika kemampuan belanja kelompok ini melemah, efeknya tidak berhenti pada rumah tangga, tetapi merambat ke aktivitas ekonomi secara luas.

>>> Janice Tjen Kalahkan Nao Hibino di Birmingham Open

Peran Besar Kelas Menengah dalam Ekonomi

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan kelompok kelas menengah dan menuju kelas menengah mencakup sekitar 66 persen penduduk Indonesia pada 2024. Kontribusinya terhadap konsumsi nasional bahkan melampaui 81 persen.

Besarnya porsi tersebut menjadikan kondisi kelas menengah sangat menentukan kekuatan ekonomi nasional. Karena itu, penurunan daya beli kelompok ini tidak dapat dipandang sebagai persoalan individu semata.

Dalam beberapa tahun terakhir, jumlah masyarakat yang masuk kategori kelas menengah juga mengalami penyusutan. Berdasarkan data yang diolah dari BPS, jumlah kelas menengah turun dari sekitar 47,9 juta orang pada 2024 menjadi 46,7 juta orang pada 2025.