Calon pembeli mobil bekas bertransmisi otomatis diimbau untuk lebih teliti dalam memeriksa kondisi kendaraan. Langkah ini penting untuk menghindari risiko kerusakan tersembunyi.

Pemeriksaan riwayat perawatan menjadi poin krusial. Kondisi komponen transmisi tidak bisa dinilai hanya dari tampilan fisik luar atau angka odometer.

>>> ID42NER Gelar Jambore Nasional V dan HUT ke-19 di Tangerang

Pemilik bengkel spesialis transmisi Cakrawala Matic Solutions di Cibinong, Budi Novianto, menjelaskan bahwa penelusuran rekam jejak servis adalah langkah awal yang wajib dilakukan konsumen.

"Sebaiknya beli dari orang yang kita kenal, atau dari pemilik yang bisa dipercaya dan rajin merawat mobilnya," ujar Budi.

Manipulasi jarak tempuh masih marak di pasar kendaraan bekas. Indikator jarak tidak lagi menjadi jaminan utama keandalan mesin.

"Sekarang memundurkan odometer itu sangat mudah.

Banyak kasus mobil dijual dengan odometer 100.000 km, padahal aslinya sudah lebih dari 200.000 km," katanya.

Beberapa unit mobil yang ditangani di bengkelnya tercatat sudah mengalami gangguan transmisi meski odometernya masih rendah. Pemeriksaan fisik lain seperti keausan setir, pedal, dan jok perlu diperhatikan.

>>> Toyota Yaris Bertahan Saat Honda City Hatchback dan Mazda2 Hampa Peminat

Pengujian jalan atau test drive menjadi prosedur wajib untuk mendeteksi responsivitas perpindahan gigi secara langsung saat kendaraan dikendarai.

"Rasakan saja tarikan dan perpindahan giginya. Kalau terasa halus dan tidak ada entakan kasar, berarti kondisinya masih bagus," ujar Budi.

Penggunaan alat pemindai elektronik atau scanner melalui jasa inspektor independen sangat direkomendasikan. Alat ini dapat membaca kode kerusakan pada sistem komputer mobil.

"Dengan scanner, kita bisa memeriksa ECU dan TCM untuk melihat apakah ada DTC atau error tersembunyi.

Kadang indikator check engine tidak menyala, tapi sebenarnya ada masalah yang hanya bisa dibaca lewat alat scanner," kata Budi.

>>> Wuling Cortez Darion EV Bebas Pajak Tahunan, Ini Rincian Biayanya

Langkah preventif dengan memanfaatkan teknologi pemindaian ini dinilai jauh lebih ekonomis dibandingkan dengan potensi biaya perbaikan besar setelah transaksi.