Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengungkapkan kebutuhan susu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026 diprediksi mencapai 4,8 miliar kemasan.

Angka tersebut menjadi tantangan besar karena industri pengolahan susu nasional belum sepenuhnya siap memenuhi permintaan secara mandiri.

>>> Danantara Jajaki Konsolidasi Merger Asuransi BUMN, AAJI Dukung

Kapasitas Produksi Susu Nasional Masih Terbatas

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kemenperin, Merrijantij Punguan Pintaria, menjelaskan kemampuan industri lokal memproduksi kemasan susu ukuran kecil masih jauh dari target.

Kapasitas produksi untuk kemasan 115 ml hingga 125 ml baru mencapai 2,39 miliar kemasan.

Artinya, industri pengolahan susu nasional baru mampu mencakup sekitar 49,7 persen dari total kebutuhan program MBG.

Pemerintah menyiapkan skema bantuan melalui kebijakan restrukturisasi. Produk ber-TKDN mendapat reimbursement hingga 35 persen untuk mendorong penggunaan komponen lokal.

Produk dalam negeri lainnya mendapat reimbursement hingga 25 persen untuk investasi mesin pengolahan susu. Unit pengolahan koperasi mendapat pendampingan teknis agar mampu memproduksi susu kemasan siap konsumsi.

Melalui program ini, pemerintah memberikan pengembalian dana bagi yang berinvestasi pada mesin dan peralatan produksi.

Langkah ini diharapkan memacu produktivitas unit pengisian di pabrik besar maupun pusat pengolahan koperasi.

Merrijantij berharap perusahaan besar mau merangkul koperasi peternak di berbagai daerah.

Pendampingan teknis dari industri besar sangat krusial bagi koperasi yang ingin bertransformasi dari penyedia bahan baku menjadi pengolah susu kemasan yang higienis.

Konsep Dapur Susu untuk Pemerataan Distribusi

Kementerian Pertanian (Kementan) mengusulkan pembentukan "Dapur Susu" untuk memastikan pasokan susu program MBG menjangkau seluruh pelosok negeri.

Dapur Susu Indonesia atau DaSI direncanakan menjadi penghubung utama yang memasok kebutuhan susu ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).