>>> PHE Cetak Laba Rp15,05 T Kuartal I-2026, Melonjak 29,76 Persen

Unit-unit kecil ini dianggap lebih fleksibel dibandingkan distribusi dari pabrik besar yang terpusat.

Berikut poin penting rencana pengembangan Dapur Susu menurut Kementan:

  • Skala usaha: dikelola koperasi dengan fokus pada pasteurisasi dan sterilisasi sederhana.
  • Estimasi modal: satu unit membutuhkan investasi awal sekitar Rp5 miliar.
  • Populasi sapi: setiap unit idealnya mengelola 100 hingga 200 ekor sapi perah.
  • Jangkauan layanan: satu pusat produksi mampu menyuplai 5 sampai 10 titik SPPG di sekitarnya.
  • Kepastian pasar: hasil produksi langsung diserap pemerintah melalui program MBG yang mewajibkan konsumsi susu dua kali sepekan.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menyatakan model prototipe sudah diuji coba secara terintegrasi di Sulawesi Selatan.

Dengan modal terjangkau, koperasi di daerah memiliki peluang besar terlibat dalam rantai pasok pangan nasional.

Tantangan Populasi Sapi dan Dominasi Industri di Jawa

Salah satu hambatan utama adalah sebaran peternakan yang masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

Makmun melihat kondisi ini sebagai peluang bagi wilayah di luar Jawa untuk membangun basis produksi susu sendiri melalui dukungan pemerintah.

Koperasi kecil sering kalah bersaing dengan industri besar dalam pemasaran di pasar komersial.

Namun, dengan program MBG, hambatan pemasaran hilang karena pemerintah berperan sebagai pembeli siaga bagi hasil produksi peternak lokal.

Ketersediaan bibit sapi perah berkualitas tetap menjadi tantangan. Makmun menekankan pentingnya intervensi bantuan pemerintah untuk pengadaan sapi guna menjaga keberlanjutan pasokan bahan baku susu.

Ia meyakini semangat peternak akan meningkat jika ada jaminan susu mereka terserap program pemerintah.

>>> Strategi Danamart Jaga Kepercayaan Investor di Tengah Kenaikan BI Rate

Integrasi antara Dapur Susu dan Dapur MBG diharapkan membuat siklus ekonomi peternak tumbuh lebih stabil dan berkelanjutan.