Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) mulai mempersiapkan penerapan aturan batas maksimal gaji (salary cap) dan pembatasan peminjaman pemain untuk kompetisi Proliga 2027.

Langkah baru tersebut diambil untuk menjaga keberlangsungan kompetisi kasta tertinggi bola voli tanah air serta memperluas kesempatan partisipasi bagi klub maupun atlet.

>>> Georgia Jamu Rumania dalam Laga Persahabatan di Tbilisi

Ketua PBVSI, Imam Sudjarwo, menerangkan di Padepokan Voli Jenderal Polisi Kunarto Sentul, Kabupaten Bogor, bahwa rencana regulasi ini sudah dibahas sejak beberapa tahun lalu dan kini mulai disosialisasikan secara terbuka.

"Ini akan saya sampaikan tentang salary cap.

Tentang bagaimana peminjaman atlet dan bagaimana sistem honor atau penggajian bagi atlet, baik itu atlet nasional maupun atlet internasional," ujar Imam Sudjarwo.

Penurunan jumlah peserta dalam beberapa musim terakhir menjadi alasan evaluasi besar-besaran ini dilakukan agar kompetisi tetap sehat. Proliga 2026 hanya diikuti oleh lima tim putra.

"Nah, harapannya dengan ada pengaturan transfer pemain dan salary cap ini supaya eksistensi daripada Proliga itu masih bisa berjalan ke depan, tidak berhenti," ucap Imam Sudjarwo.

Aturan ini juga dirancang untuk melindungi hak finansial para pemain profesional Indonesia. Proliga menjadi ruang berkarier utama yang bergulir selama lima bulan.

"Yang kedua, supaya juga atlet ada mata pencahariannya, ada pendapatannya, karena Proliga itu lima bulan. Coba bayangkan kalau Proliga diberhentikan, kasihan mereka, atlet kita," ungkap Imam Sudjarwo.

Ketiadaan regulasi pembatasan gaji dinilai memicu lonjakan biaya operasional klub dan menyebabkan penumpukan pemain berlabel Timnas Bola Voli Indonesia hanya di tim-tim kaya tertentu.

"Kemudian, kalau tidak dibatasi seperti ini, nanti akan terjadi penumpukan pemain-pemain yang terbaik senior dalam satu klub, dalam satu tim.