Perpaduan aktivitas ekstrem ini memunculkan pola sinyal radio yang berulang secara konsisten setiap 1,4 jam.

Uniknya, puncak pancaran emisi radio dan sinar-X dideteksi tidak berlangsung secara bersamaan.

Perbedaan waktu ini mengindikasikan bahwa kedua jenis radiasi diproduksi pada titik lokasi yang berlainan di dalam sistem bintang ganda tersebut.

Mengoreksi Teori Pulsar

Sebelum penemuan ini, komunitas astronom meyakini bahwa fenomena long-period radio transients bersumber dari pulsar atau bintang neutron yang berputar cepat.

Namun, teori tersebut memiliki kelemahan mendasar menurut model astrofisika saat ini.

Berdasarkan pemodelan yang ada, bintang neutron yang berputar sangat lambat mustahil menghasilkan pancaran sinyal kuat seperti yang terdeteksi.

Hasil riset terbaru ini menawarkan jalur penjelasan baru yang dinilai lebih logis bagi para ilmuwan.

Melalui objek ASKAP J1745−5051, para peneliti untuk pertama kalinya dapat menyaksikan langsung pergerakan dua bintang sekaligus proses perpindahan materi antarbintang.

Objek ini juga menjadi sistem kedua dalam kelompok long-period radio transients yang terbukti memancarkan sinar-X secara berkala.

Menjadi Alat Bantu Penerjemah Kosmik

Keberhasilan mengidentifikasi penyebab pola sinyal periodik ini membuat para astronom optimistis dapat memecahkan misteri sinyal luar angkasa lainnya.

ASKAP J1745−5051 kini diposisikan sebagai laboratorium alam yang krusial untuk menguji teori-teori fisika ekstrem.

Peneliti utama studi ini, Kovi Rose, mengibaratkan sistem bintang ganda unik ini sebagai "Rosetta Stone" kosmik.

>>> Dulu Akrab, Model Ini Tak Diundang Taylor Swift ke Nikahannya

Melalui pendalaman objek ini, para astronom bertujuan memastikan apakah fenomena long-period radio transients lain di jagat raya condong menyerupai karakteristik pulsar atau justru bersumber dari sistem bintang katai putih.