Pemerintah Provinsi DKI Jakarta bersama Polda Metro Jaya tengah berupaya menekan angka kriminalitas jalanan yang kembali marak.

Langkah strategis ini diambil untuk merespons keresahan masyarakat terhadap aksi pembegalan dan penjambretan.

>>> Hasil Mengejutkan Indonesia Open 2026: Leo/Daniel Langsung Tersingkir di Babak Pertama

Salah satu langkah konkret adalah mengintegrasikan 24.000 kamera pengawas (CCTV) yang tersebar di berbagai sudut Jakarta.

Seluruh kamera akan terhubung langsung ke pusat pemantauan Polda Metro Jaya guna mempercepat respons terhadap kejahatan.

Pemprov DKI menegaskan bahwa agenda utama saat ini adalah menjamin rasa aman bagi publik.

Keamanan menjadi prioritas mendesak mengingat banyaknya video aksi kejahatan yang viral dan merusak citra kota.

Kontradiksi Peringkat Keamanan Jakarta

Situasi ini terbilang ironis jika melihat data terbaru dari Global Residence Index 2026. Jakarta menduduki posisi kedua sebagai kota paling aman di Asia Tenggara, tepat di bawah Singapura.

Namun, predikat tersebut dibayangi oleh sebutan "Gotham City" dari pengguna media sosial.

Julukan ini muncul karena seringnya beredar rekaman amatir yang menunjukkan aksi sadis komplotan begal bersenjata di siang hari.

Aksi kriminalitas tidak hanya mengincar warga lokal, tetapi juga wisatawan asing. Beberapa insiden penjambretan di kawasan strategis Jakarta Pusat sempat menjadi sorotan publik.

>>> Hasil Piala AFF U-19 2026: Diwarnai Gol Kontroversial, Malaysia Bantai Singapura 5-0

Berikut daftar kasus kriminalitas yang menimpa turis asing di Jakarta:

  • Turis asal Polandia menjadi korban penjambretan tas saat berjalan kaki di kawasan Kebon Sirih pada 8 Mei 2026.
  • Wisatawan asal Italia mengalami perampokan ponsel saat menunggu ojek daring di area Bundaran HI pada 14 Mei 2026.