China Tolak Tuduhan Trump soal Campur Tangan Pemilu AS
China secara resmi menolak tuduhan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menuduh Beijing melakukan peretasan besar-besaran terhadap data pemilu AS.
Dalam pidato pada Kamis, 16 Juli 2026, Trump menyebut China bertanggung jawab atas kompromi data pemilu. Namun, Kementerian Luar Negeri China menyatakan tuduhan itu tidak memiliki dasar fakta.
>>> Cuaca Cerah Mendukung Putaran Kedua The Open Championship
Pejabat China menegaskan bahwa negara mereka menganut kebijakan non-intervensi yang ketat dalam urusan domestik negara lain. China juga tidak memiliki kepentingan untuk mempengaruhi hasil pemilu AS.
Sebuah dokumen Gedung Putih yang dideklasifikasi bahkan menyebutkan bahwa Beijing tidak berniat mempengaruhi pemilu. Hal ini bertolak belakang dengan klaim Trump yang menyebut China berusaha mencuri suara.
Kedutaan Besar China di Washington juga menyampaikan pernyataan kepada Reuters bahwa China tidak pernah dan tidak akan pernah campur tangan dalam pemilihan presiden AS.
Tuduhan Trump disampaikan dalam upaya menekan Kongres untuk mengesahkan RUU SAVE America yang membatasi identifikasi pemilih. Namun, kritikus dan politisi oposisi AS menantang klaim tersebut.
>>> AS Akhiri Serangan 7 Malam Berturut-turut ke Iran
Gubernur California Gavin Newsom menyebut pidato Trump sebagai 'omelan raja gila'. Sementara itu, Senator Elissa Slotkin, mantan analis CIA, menyatakan kekhawatiran tentang potensi intimidasi pemilih.
Slotkin juga mempertanyakan kemungkinan pengiriman militer berseragam ke tempat pemungutan suara tanpa surat perintah. Ia telah mengusulkan undang-undang untuk memblokir pengerahan militer semacam itu.
Pendukung gugus tugas pemilu pemerintahan Trump pun mengakui kurangnya bukti forensik yang mendukung klaim manipulasi suara asing.
John Solomon, pendiri Just the News, mengatakan komunitas intelijen tidak memiliki bukti bahwa pihak asing mengubah suara dalam pemilu 2020, 2022, dan 2024.
>>> Arumsari Ungkap Alasan MBG Tetap Berjalan Saat Libur di Era Dadan
Sementara itu, Gedung Putih terus mempromosikan temuan tinjauan Departemen Keamanan Dalam Negeri yang menyebut sekitar 278.000 non-warga negara terdaftar untuk memilih dalam pemilu federal.
Update Terbaru
Waspada Quishing, Modus Penipuan Baru Lewat QR Code yang Bisa Menguras Rekening
Sabtu / 18-07-2026, 11:52 WIB
Studi Ungkap Ciri Psikopat Bisa Dilihat dari Makanan Kesukaan
Sabtu / 18-07-2026, 11:52 WIB
Cara Rahasia Ombre Lips Natural Awet 20 Jam ala MUA, Anti Ribet Re-apply
Sabtu / 18-07-2026, 11:52 WIB
[CEK FAKTA] Klaim Prabowo Soal Motor Listrik Nasional Dinilai Keliru
Sabtu / 18-07-2026, 11:52 WIB
Bongkar Dibalik Layar The East Palace: Nam Joo Hyuk dan Roh Yoon Seo Akui Syuting Underwater Penuh 'Penderitaan'
Sabtu / 18-07-2026, 11:51 WIB
Diam Seribu Bahasa, Don Ritto Digiring Polisi ke Kejaksaan Agung Terkait Dugaan Korupsi Asabri dan TPPU
Sabtu / 18-07-2026, 11:49 WIB
Jump Magazine Minta Maaf karena Edisi Final Blue Box dan Kartu One Piece Ludes Terjual
Sabtu / 18-07-2026, 11:43 WIB
Indonesia Resmi Jadi Founding Member WAICO, Percepat Transformasi AI
Sabtu / 18-07-2026, 11:43 WIB
Taival: Game Mirip Minecraft yang Bisa Dicoba Gratis di Steam
Sabtu / 18-07-2026, 11:43 WIB
5 Hero Counter Gloo EXP Lane di Mobile Legends Season 41
Sabtu / 18-07-2026, 11:43 WIB
The East Palace Tayang di Netflix: 5 Fakta Menarik Drakor Sageuk Horor Nam Joo Hyuk, Sempat Dilanda Bencana!
Sabtu / 18-07-2026, 11:33 WIB
Jadwal Mega Bollywood Paling Yahud 19 - 26 Juli 2026
Sabtu / 18-07-2026, 11:28 WIB
Banjir Bandang di Texas Tewaskan Satu Orang, Ratusan Rumah Terendam
Sabtu / 18-07-2026, 11:07 WIB
Gempa Bumi Kecil Guncang Cobb, California
Sabtu / 18-07-2026, 11:07 WIB







