Kementerian Pertanian (Kementan) mengungkapkan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai memberikan tekanan pada harga sapi perah impor.

Kenaikan harga ini menjadi tantangan baru bagi pemerintah yang tengah berupaya menambah populasi ternak nasional untuk mencukupi kebutuhan susu di dalam negeri.

>>> Cara Daftar IMEI HP dari Arab Saudi Terbaru 2026, Resmi dan Tanpa Ribet

Makmun selaku Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan menyebutkan bahwa kenaikan biaya ini terjadi di tengah percepatan produksi susu domestik.

Pasalnya, hingga saat ini Indonesia masih memiliki ketergantungan yang cukup tinggi terhadap produk impor demi memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Pada penutupan perdagangan Selasa sore, posisi mata uang rupiah terpantau berada di angka Rp17.839 per dolar AS.

Nilai tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 0,19 persen jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan di hari sebelumnya.

Perbandingan Harga dan Strategi Nasional

Pelemahan rupiah memang memicu kenaikan harga hewan ternak yang didatangkan dari luar negeri ke wilayah Indonesia.

Namun, Makmun menilai bahwa sejauh ini lonjakan harga yang terjadi masih berada dalam kategori yang cukup terkendali bagi para pelaku usaha.

Ia memberikan gambaran perbandingan harga sapi perah bunting antara tahun lalu dengan kondisi yang terjadi pada tahun ini.

Pada tahun sebelumnya, harga rata-rata sapi impor tersebut berada di kisaran angka Rp45 juta per ekornya.

Untuk tahun ini, meskipun ada tren kenaikan harga, nilainya dipastikan belum menyentuh angka Rp50 juta per ekor.

Kenaikan ini dirasakan oleh para pelaku usaha, namun tidak sampai melonjak secara ekstrem di luar batas kewajaran harga pasar.

Impor sapi perah tetap menjadi salah satu strategi utama yang dijalankan oleh pemerintah demi mendongkrak populasi ternak secara cepat.