Langkah ini diambil karena realitas produksi susu nasional saat ini baru sanggup menyuplai sekitar 20 hingga 25 persen kebutuhan domestik.

Sisa kebutuhan konsumsi yang sangat besar tersebut terpaksa masih harus dipenuhi melalui skema impor dari berbagai negara.

Hal inilah yang membuat sektor industri susu sangat sensitif terhadap perubahan nilai tukar mata uang asing yang terjadi secara tiba-tiba.

Dampak pada Industri Pengolahan Susu

Pelemahan nilai tukar rupiah ini juga turut memukul industri pengolahan susu yang mengandalkan bahan baku impor dalam skala besar.

Perusahaan harus memutar otak agar kenaikan biaya operasional tidak mengganggu jalannya bisnis serta keterjangkauan produk di masyarakat.

Tjatur Lestijaman, General Manager R&D Health and Wellness Divisi Dairy PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk, mengamini kondisi tersebut.

Ia menyatakan bahwa fluktuasi dolar memiliki pengaruh langsung terhadap struktur biaya produksi yang harus ditanggung perusahaan saat ini.

>>> LippoLand Perkuat Strategi Bisnis Berkelanjutan 2026, Raih TOP CSR Awards

Berikut adalah beberapa poin utama mengenai kondisi industri susu saat ini terkait nilai tukar mata uang asing:

  • Sebanyak 80 persen dari total kebutuhan susu nasional saat ini masih dipenuhi melalui skema impor bahan baku.
  • Harga bahan baku internasional sangat terikat dengan pergerakan mata uang dolar AS yang sedang menguat.
  • Biaya produksi otomatis mengalami kenaikan seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
  • Industri berusaha melakukan efisiensi internal untuk menjaga agar kenaikan biaya produksi tetap berada di bawah angka 10 persen.

Pihak produsen menyatakan komitmennya untuk tidak langsung membebankan seluruh kenaikan biaya bahan baku tersebut kepada para pelanggan.

Hal ini dilakukan demi menjaga daya beli masyarakat agar tetap mampu mengonsumsi produk susu dengan harga yang relatif terjangkau.