Anies juga menyoroti sejumlah inisiatif yang pernah digagas Dino selama berkarier. Salah satunya adalah penyelenggaraan Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles pada 2012 ketika menjabat Duta Besar RI untuk Amerika Serikat.

Forum tersebut mempertemukan diaspora Indonesia dari berbagai negara. Anies menyebut dirinya termasuk salah satu tokoh yang mendapat undangan dalam kegiatan tersebut.

Selain itu, Dino juga mendirikan Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) yang menurut Anies berkembang menjadi wadah diskusi kebijakan luar negeri dan turut melahirkan generasi baru diplomat Indonesia.

"Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yang ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yang ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global," kata Anies.

Di akhir pernyataannya, Anies menilai Dino memiliki penguasaan substansi, pengalaman kepemimpinan, serta rekam jejak yang terbentuk dalam waktu panjang. Karena itu, ia menolak anggapan yang menyebut karier Dino lahir secara instan.

"Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat," tegasnya.

Sebelumnya, perdebatan di ruang publik muncul setelah Teddy Indra Wijaya merespons kritik Dino mengenai frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Dalam tanggapannya, Teddy menyinggung masa jabatan Dino sebagai Wakil Menteri Luar Negeri yang disebut berlangsung sekitar tiga bulan.

Pernyataan tersebut kemudian memicu beragam reaksi dan perbincangan di kalangan publik.