Teddy Jelaskan Soal Biaya dan Rombongan

Menanggapi hal tersebut, Teddy menyampaikan apresiasi atas masukan yang diberikan. Namun ia meluruskan sejumlah hal yang menurutnya perlu dipahami secara utuh.

Teddy menegaskan bahwa pengeluaran yang melebihi anggaran resmi negara dalam kunjungan luar negeri Presiden ditanggung secara pribadi oleh Prabowo.

Ia juga menjelaskan jumlah delegasi yang menyertai Presiden telah jauh berkurang dibanding periode pemerintahan sebelumnya. Menurut Teddy, rombongan dalam satu kunjungan saat ini berkisar antara 50 hingga 60 orang.

"Jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," kata Teddy.

Jadwal Diplomasi Disebut Tidak Selalu Bisa Dipastikan Jauh Hari

Terkait usulan agar agenda luar negeri diumumkan setahun sebelumnya, Teddy mengatakan situasi internasional berkembang sangat cepat sehingga tidak semua kunjungan dapat direncanakan jauh-jauh hari.

Menurutnya, terdapat agenda rutin tahunan, tetapi ada pula kunjungan yang muncul karena kebutuhan mendesak seiring perkembangan kondisi global maupun kepentingan nasional.

Teddy menilai konteks dunia saat ini berbeda karena berbagai konflik internasional masih berlangsung di sejumlah kawasan.

Ia menyebut hubungan personal antarpemimpin negara menjadi bagian penting dari diplomasi. Kedekatan tersebut dinilai dapat mempermudah kerja sama maupun bantuan ketika suatu negara menghadapi kondisi darurat.

Pemerintah Klaim Diplomasi Berbuah Hasil Nyata

Teddy menolak anggapan bahwa kunjungan luar negeri Presiden hanya bersifat seremonial. Ia menyebut sejumlah capaian yang menurut pemerintah merupakan hasil dari aktivitas diplomasi tersebut.

Salah satunya adalah bergabungnya Indonesia ke dalam BRICS. Selain itu, pemerintah juga menyoroti penyelesaian kesepakatan perdagangan dengan Uni Eropa yang disebut memberikan tarif nol persen bagi sejumlah produk Indonesia.