Dalam eksperimen, peneliti menghilangkan makrofag pada separuh dari 34 merpati yang diuji. Seluruh burung kemudian dibawa sejauh 19 kilometer dan dilepaskan dengan alat pelacak khusus.

Burung dengan makrofag utuh berhasil pulang ke sarang dalam waktu sekitar 70 menit.

Sebaliknya, merpati yang kehilangan makrofag terbang tanpa arah dan baru kembali esok hari saat matahari terbit.

Ketika pengujian dilakukan pada hari cerah, merpati yang kehilangan makrofag tetap bisa langsung terbang pulang dengan memanfaatkan matahari.

Eksperimen ini mempertegas fungsi krusial makrofag hati saat cuaca buruk.

Ahli neuroetologi John Phillips dari Virginia Tech yang tidak terlibat dalam studi memberikan komentarnya. Ia memprediksi temuan ini akan memicu pro dan kontra di kalangan akademisi.

"Pasti akan ada orang yang tidak percaya.

>>> CEO Nvidia Khawatir Dominasi AI AS Terancam oleh China

Tetapi, penelitian ini dilakukan dengan sangat baik, sehingga bahkan orang yang belum percaya pun tidak dapat mengabaikannya," ujar John Phillips.