CEO Nvidia Jensen Huang menyuarakan kekhawatiran serius mengenai masa depan dominasi Amerika Serikat di sektor kecerdasan buatan (AI).

Perkembangan pesat perusahaan asal China, DeepSeek, dinilai semakin mandiri dari teknologi buatan AS.

>>> Jadwal Film dan Sepakbola 2 Juni 2026: Tayangan Seru di TV Indonesia

Kemandirian tersebut berpotensi menggeser ekosistem AI global setelah model terbaru DeepSeek V4 dikabarkan akan beroperasi menggunakan chip Ascend produksi Huawei.

Langkah itu menggantikan produk Nvidia yang selama ini mendominasi pasar.

Kekhawatiran Nvidia

Pergeseran infrastruktur ini memicu kekhawatiran besar dari pihak Nvidia terkait posisi strategis teknologi AS di kancah internasional.

"Hari ketika DeepSeek pertama kali berjalan di atas teknologi Huawei, itu akan menjadi hasil yang buruk bagi negara kami," ujar Jensen Huang.

Penempatan model AI global pada arsitektur non-AS diprediksi dapat memperlemah posisi AS sekaligus memberi peluang besar bagi China untuk memimpin ekosistem AI.

>>> Taiwan Selidiki Penyelundupan Chip AI Nvidia ke China Lewat Jepang

China menghadapi pembatasan melalui optimalisasi efisiensi perangkat lunak, penggabungan banyak chip, serta teknik Mixture-of-Experts untuk mendongkrak performa perangkat keras.

Kombinasi jumlah tenaga ahli AI yang masif dan biaya energi murah di China membuat produk mereka tetap kompetitif meski spesifikasi chip Huawei masih di belakang produk AS.

Kondisi ini memicu kritik terhadap kebijakan kontrol ekspor pemerintah AS yang dinilai kontraproduktif bagi industri domestik.

"Kenapa AS tidak membuat regulasi yang lebih seimbang agar Nvidia bisa menang secara global, bukannya justru menyerahkan pasar dunia?"

tegas Jensen Huang.

>>> 5 Kartun Serupa Masha and the Bear yang Bisa Ditonton Anak

Kebijakan regulasi AS saat ini dinilai tidak konsisten karena memperketat pembatasan ekspor terhadap perusahaan AI China, namun melonggarkan beberapa aspek pasokan chip.