Perum Bulog melalui anak perusahaannya, PT Gendhis Multi Manis (GMM), mengambil langkah strategis untuk mengatasi hambatan penyerapan tebu di Blora, Jawa Tengah.

Pabrik gula milik PT GMM dilaporkan tidak beroperasi sejak musim giling tahun lalu hingga saat ini.

>>> Rupiah Melemah, BRI Finance Optimistis Pembiayaan Mobil 2026 Tetap Cair Cepat

Kondisi tersebut berdampak signifikan terhadap perekonomian lokal.

Berdasarkan data Pemerintah Kabupaten Blora, potensi kerugian diperkirakan mencapai Rp500 miliar karena sekitar 30 ribu petani kesulitan memasarkan hasil panen.

Langkah Cepat Penyelamatan Hasil Panen

Manajemen PT GMM membentuk tim khusus untuk memberikan pendampingan kepada para petani. Tim ini bertugas mencari solusi jangka pendek agar tebu tetap terserap meski pabrik utama berhenti beroperasi.

Salah satu skema yang dijalankan adalah mengalihkan pengiriman tebu ke beberapa pabrik gula lain di sekitar Kabupaten Blora maupun di luar daerah.

Upaya ini dilakukan secara intensif demi menjaga mata pencaharian petani tebu.

Plt Direktur Utama PT GMM, Sri Emilia Mudiyanti, membenarkan pembentukan tim penyerapan tersebut.

Ia menjelaskan bahwa pihaknya tengah mendata seluruh wilayah yang memungkinkan untuk dibantu proses pengalihan hasil buminya.

Rencana Transformasi Manajemen dan Perbaikan Teknis

Selain penanganan jangka pendek, Perum Bulog menyiapkan langkah fundamental untuk memperbaiki performa PT GMM di masa depan.

Hal ini sejalan dengan tuntutan petani tebu di Blora yang menginginkan perombakan besar di dalam tubuh manajemen perusahaan.

Bulog secara resmi mengusulkan pergantian jajaran manajemen PT GMM dengan susunan pengurus baru.

>>> Resmi, Jemaah Haji 2026 Dilarang Buka Jastip Meski Dapat Pembebasan Bea Masuk Pelabuhan

Langkah ini diambil guna memperbaiki tata kelola perusahaan agar lebih profesional dan berorientasi pada pelayanan petani.