Singapura kembali mengalami lonjakan kasus COVID-19 yang signifikan. Badan Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDA) melaporkan kenaikan drastis dalam sepekan terakhir.

Data menunjukkan jumlah kasus mencapai 12.700 pada periode 10 hingga 16 Mei. Angka ini melonjak dibandingkan pekan sebelumnya yang hanya 8.000 kasus.

>>> Review Film Normal: Aksi Bob Odenkirk Bongkar Intrik Pejabat yang Mengejutkan

Pasien Rawat Inap dan Varian Dominan

Rata-rata pasien harian yang dirawat di rumah sakit juga meningkat. Dari sebelumnya 56 orang menjadi 73 orang per hari.

Meski begitu, kasus yang membutuhkan perawatan intensif di ICU masih rendah. Rata-rata hanya satu kasus per hari.

CDA menjelaskan varian yang mendominasi adalah NB. 1.8.1, turunan dari JN.

1. Varian JN.

1 sendiri menjadi pemicu setidaknya separuh total infeksi di Singapura.

Karakteristik penyakit dari varian ini dilaporkan tidak lebih parah dari varian sebelumnya.

>>> Viral Video Mensos Tunggu Seskab Teddy, Warganet Soroti Birokrasi

Penyebab Lonjakan dan Imbauan Vaksinasi

CDA menyebut kenaikan kasus adalah fenomena wajar pada penyakit pernapasan endemik. Gelombang infeksi diperkirakan akan terus muncul secara berkala.

Salah satu pemicunya adalah menurunnya kekebalan tubuh masyarakat seiring waktu. Oleh karena itu, otoritas kesehatan menyarankan warga untuk memperbarui dosis vaksinasi.

Kelompok yang sangat dianjurkan untuk vaksinasi adalah warga lanjut usia di atas 60 tahun dan individu dengan kondisi medis rentan mulai usia 6 bulan ke atas.

Vaksinasi rutin diharapkan memperkuat pertahanan tubuh terhadap virus. Langkah ini penting untuk mencegah gejala berat dan menekan angka hunian rumah sakit.

Langkah Pencegahan Mandiri

Selain vaksinasi, masyarakat diminta tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan. Kedisiplinan individu menjadi kunci memutus rantai penularan.

Langkah pencegahan yang harus diterapkan antara lain mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, menutup hidung dan mulut saat batuk atau bersin, serta menggunakan masker jika merasa kurang sehat.

>>> Resmi! Carlo Ancelotti Perpanjang Kontrak di Timnas Brasil hingga Piala Dunia 2030

Masyarakat juga disarankan membatasi aktivitas sosial dan menunda perjalanan tidak mendesak saat kondisi tubuh tidak fit. Dengan pola hidup bersih dan sehat, risiko penularan massal dapat diminimalkan.