Hubungan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) tengah berada dalam fase krusial. Kedua negara dilaporkan masih aktif menjalin komunikasi tertutup untuk menjajaki kemungkinan kesepakatan baru.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengonfirmasi bahwa pertukaran pesan antara Teheran dan Washington terus berlangsung. Pernyataan itu disampaikan pada Minggu (31/5).

>>> Prabowo Hadiri Persemayaman Ryamizard Ryacudu di Kemhan, Momen Penuh Haru

Status Negosiasi Iran dan AS

Araghchi menekankan agar publik tidak terburu-buru mengambil kesimpulan. Menurutnya, penilaian akhir hanya bisa dilakukan jika sudah ada hasil konkret.

Diplomat senior Iran itu juga meminta masyarakat tidak terpancing kabar di media massa. Ia menegaskan sebagian besar informasi yang beredar saat ini hanyalah spekulasi.

Di pihak lain, Presiden AS Donald Trump telah mengadakan pengarahan intelijen di Washington pada Jumat pagi.

Dalam pertemuan itu, Trump menyatakan niatnya segera mengambil keputusan final terkait ketegangan dengan Iran.

Namun, sejumlah laporan media AS menyebutkan titik temu belum tercapai. Belum ada draf kesepakatan akhir yang disetujui kedua belah pihak.

Persyaratan dan Dinamika Konflik

Laporan terbaru merangkum beberapa poin penting dalam dinamika hubungan kedua negara. Donald Trump dilaporkan mengajukan syarat lebih berat bagi Iran untuk mengakhiri konflik secara permanen.

Pemerintah AS telah menyampaikan draf usulan terbaru kepada Teheran. Hingga saat ini, AS masih menerapkan blokade maritim terhadap sejumlah pelabuhan strategis Iran.

Trump memutuskan memperpanjang masa penghentian permusuhan. Langkah ini memberi ruang bagi Iran untuk menyusun proposal perdamaian.

>>> Pancasila Jadi Pusaka Diplomasi RI, Strategi Terbaru yang Banyak Dicari 2026

Informasi dari New York Times memperkuat kabar adanya tuntutan tambahan dari Washington. Proses negosiasi berjalan alot meskipun komunikasi terus terjalin.