Presiden Prabowo Subianto melakukan kunjungan kenegaraan ke Prancis pada 28 Mei 2026. Agenda utama adalah memperkuat hubungan bilateral di berbagai sektor strategis.

Kepala Badan Komunikasi RI, M. Qodari, menjelaskan fokus kemitraan mencakup pertahanan, pendidikan, energi, dan pengelolaan sumber daya mineral.

>>> Bos BP Mengundurkan Diri secara Mengejutkan, Ini Sosok Penggantinya di 2026

Kunjungan ini merupakan balasan atas kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Indonesia tahun sebelumnya.

Fokus pada Transfer Teknologi Alutsista

Salah satu agenda mendesak adalah penguatan sektor pertahanan. Indonesia menargetkan transfer teknologi untuk mendukung kemandirian militer nasional.

Target utama terkait alat utama sistem persenjataan (alutsista) yang telah diterima dari Prancis. Qodari menekankan penguasaan teknologi diperlukan agar alutsista dapat dikelola optimal oleh personel dalam negeri.

"Pak Sugiono telah menyampaikan bahwa target pertama adalah kerja sama di bidang ketahanan.

Karena Indonesia sudah menerima alutsista dari Prancis, maka diperlukan transfer teknologi," ujar Qodari dalam konferensi pers di Wisma Danantara.

Pendidikan dan Energi Jadi Prioritas

Sektor pendidikan juga menjadi perhatian, terutama pengembangan disiplin STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics). Peningkatan kualitas pendidikan dipandang vital untuk mendorong transfer teknologi.

Kedua negara juga mengeksplorasi kolaborasi di bidang energi dan pemanfaatan mineral strategis. Sinergi ini diharapkan menyokong pertumbuhan industri dan kapasitas sumber daya manusia.

Kedekatan Personal Pemimpin Negara

Qodari menyoroti hubungan diplomatik yang diperkuat oleh kedekatan personal antara Presiden Prabowo dan Presiden Macron. Hubungan informal ini menjadi katalisator bagi kesepakatan formal yang lebih efektif.

"Selain urusan formal, kita bisa melihat adanya hubungan personal yang sangat kuat di antara kedua kepala negara. Modal sosial semacam ini tidak kalah penting," ungkap Qodari.