Ekonom senior MIT Oliver Blanchard menyoroti pentingnya suku bunga dan premi risiko dalam keputusan investasi.

Menurutnya, kenaikan pendapatan nasional biasanya mendorong investasi, namun suku bunga dan premi risiko tinggi justru sebaliknya.

>>> Bantah Persulit Ruben Onsu Temui Anak, Pihak Sarwendah Beri Jawaban Mengejutkan

Sejak awal 2026, Indonesia menghadapi peningkatan persepsi risiko investor.

Country risk premium nasional mencapai 2,46%, jauh lebih tinggi dibanding Malaysia (1,55%) dan Thailand (2,07%).

Equity risk premium Indonesia juga melonjak ke 6,69% sejak Januari 2026. Angka ini melampaui Malaysia (5,78%) dan Thailand (6,30%).

Dampak Terhadap Nilai Tukar Rupiah

Tingginya persepsi risiko menekan nilai tukar rupiah.

Mata uang Garuda melemah hingga menyentuh Rp17.500 per dolar AS pada 12 Mei 2026, level terendah dalam sejarah.

Depresiasi ini kontras dengan ringgit Malaysia yang menguat dan baht Thailand yang hanya melemah tipis 1,07% dalam sebulan terakhir.

Dalam 12 bulan, pelemahan baht hanya 2,49%.

Kinerja Pasar Modal dan IHSG

Equity risk premium tinggi juga berdampak pada IHSG.

Indeks sempat berada di all-time high 9.147,5 pada 19 Januari 2026, namun merosot ke 6.853,5 per 12 Mei 2026.

Posisi ini mendekati level terendah lima tahun terakhir di 6.272,0 pada Maret 2025.

>>> Balas Menohok Komentar Negatif, Pacar Baru Pratama Arhan Beri Reaksi Mengejutkan

Sebaliknya, indeks Malaysia (FKLCI) menguat 10,36% year-on-year, dan indeks Thailand (SET 50) tumbuh 23,32%.

Anomali terjadi karena pelemahan rupiah justru semakin tajam setelah BPS merilis pertumbuhan ekonomi 5,61%, tertinggi sejak 2023.

Artinya, pelemahan tidak sejalan dengan indikator makroekonomi yang kuat.

Berikut perbandingan data risiko dan ekonomi negara Asia Tenggara: