Negara-negara di kawasan Indo-Pasifik saat ini gencar memperkuat sistem persenjataan secara mandiri. Langkah ini diambil sebagai respons atas kebangkitan kekuatan militer China yang semakin masif di wilayah tersebut.

Selain faktor China, ada kekhawatiran mengenai sejauh mana Amerika Serikat dapat terus memberikan bantuan keamanan.

>>> Daftar Acara TV Hari ini 2 Juni 2026 di ANTV, GTV, Indosiar, MDTV, Metro TV, MNCTV, RCTI, SCTV, Trans 7, Trans TV dan TVONE ada Film Bioskop Rambo: Last Blood dan Kickboxer: Retaliation + Link

Ketidakpastian ini memicu negara-negara kawasan untuk tidak lagi bergantung sepenuhnya pada satu kekuatan besar.

Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, telah mendorong mitra regional untuk mengambil peran lebih besar dalam menjaga keamanan.

Namun, banyak pihak merasa prioritas AS mulai terbagi, terutama dengan eskalasi konflik di Iran.

Kolaborasi dan Penguatan Mandiri

Gilberto Teodoro, Menteri Pertahanan Filipina, menyatakan para pemimpin militer di kawasan sepakat mempererat kolaborasi. Menurutnya, ada dorongan kuat agar setiap negara meningkatkan kapasitas pertahanan secara mandiri dan cepat.

Teodoro menjelaskan bahwa penguatan militer regional ini berfungsi mendukung eksistensi AS di kawasan. Filipina sendiri mulai memperdalam hubungan pertahanan dengan Jepang, Australia, Kanada, hingga Selandia Baru.

Ia menambahkan bahwa komitmen AS akan terasa semakin kuat jika banyak negara terlibat dalam menciptakan efek gentar terhadap ancaman yang sama.

Sinergi ini dianggap krusial untuk menjaga stabilitas.

Peran Sentral Jepang

Jepang memosisikan diri sebagai aktor sentral dalam jaringan keamanan baru di Indo-Pasifik.

Pada April lalu, Jepang melakukan perombakan besar-besaran terhadap aturan ekspor pertahanan yang telah berlaku selama puluhan tahun.

Langkah ini menghapus pembatasan penjualan senjata ke luar negeri bagi Tokyo. Kebijakan tersebut membuka peluang besar bagi ekspor kapal perang, teknologi rudal, dan persenjataan lainnya ke negara mitra.