Dunia politik Brasil dihebohkan oleh aksi unik anggota parlemen Kim Kataguiri. Ia menantang lawan politiknya, Chandi Teixeira, untuk bertanding Dota 2 dengan taruhan kursi parlemen.

Perselisihan bermula dari kritik Teixeira di media sosial X. Teixeira menuding banyak politisi hanya menggunakan esports sebagai alat pencitraan.

>>> Pemuda Pancasila Sragen Bagikan Ribuan Nasi Tumpang Gratis Sambut Hari Lahir Pancasila

Kritik dan Pembelaan

Teixeira menyindir politisi yang tiba-tiba mengaku gamer demi meraih suara anak muda. Ia menilai komunitas gamer sudah cerdas membedakan dukungan tulus dan pencitraan.

Pernyataan itu menyasar Kataguiri yang dikenal aktif bermain game dan melakukan siaran langsung. Pelatih Team Nemesis, Filipe Astini, membela Kataguiri.

Astini mengatakan Kataguiri sudah lama bermain Dota 2, jauh sebelum isu politik gaming populer.

Ia menambahkan jika hanya mencari popularitas, Kataguiri akan memilih game yang lebih mainstream seperti League of Legends.

Tantangan Taruhan Tinggi

Menanggapi kritik, Kataguiri menantang Teixeira bertanding Dota 2 format 5 lawan 5. Fokus duel adalah pertarungan satu lawan satu di mid lane.

>>> Bursa Asia Menguat di Awal Perdagangan, Investor Cermati Perkembangan Geopolitik

Kataguiri berkomitmen mundur dari parlemen jika kalah. Ia menunjukkan bukti akun Steam dengan waktu bermain lebih dari 4.300 jam.

Ia juga menegaskan rekam jejaknya mendukung industri game, termasuk sebagai satu-satunya deputi yang mendukung gerakan "March of the Games".

Belum Ada Kepastian

Hingga kini, Teixeira belum memberikan respons pasti. Ia dikabarkan kesulitan mengumpulkan tim.

Kataguiri menuduh Teixeira pengecut karena menghindari duel setelah berani mengkritik. Drama ini menjadi perbincangan hangat di komunitas gamer global.

>>> Resmi, DSI Ambil Alih Ekspor Sawit dan Batu Bara Mulai Besok

Belum ada tanggal resmi pertandingan. Jika terlaksana, ini akan menjadi preseden unik di mana kemampuan bermain game berdampak langsung pada posisi politik.