Amerika Serikat, Inggris, dan Australia yang tergabung dalam aliansi Aukus sepakat mengembangkan kendaraan bawah laut tak berawak (UUV) terbaru.

Proyek ini ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2026.

>>> Bos Hanania Group Tersangka Penipuan Umrah, Kerugian Rp12,1 Miliar

Keputusan ini diumumkan oleh para menteri pertahanan ketiga negara dalam pertemuan keamanan di Singapura. Langkah ini merupakan respons terhadap kritik bahwa proyek Aukus berjalan lambat.

Komitmen Pendanaan dan Fokus Proyek

Inggris berkomitmen mengucurkan dana sebesar USD 201 juta atau sekitar Rp3,2 triliun untuk proyek ini. Meski total biaya keseluruhan tidak dipublikasikan, investasi ini menandai langkah konkret aliansi.

Fokus utama proyek meliputi perlindungan infrastruktur dasar laut seperti kabel komunikasi dan pipa energi.

Drone ini juga dirancang untuk serangan presisi di dalam air, pengawasan, pengintaian, dan dukungan logistik bawah air.

Pengembangan ini merupakan bagian dari "Pilar Kedua" Aukus yang mencakup rudal hipersonik, robotika, dan kecerdasan buatan. UUV akan dilengkapi sensor mutakhir dan sistem persenjataan canggih.

>>> Program Makan Bergizi Gratis 2026 Dongkrak Permintaan Telur, Peternak Optimis Cuan Cepat

Meningkatnya Ancaman di Bawah Laut

Langkah Inggris dipicu oleh peningkatan aktivitas kapal Rusia di perairan mereka hingga 30 persen dalam beberapa tahun terakhir.

Pejabat Inggris mencurigai adanya operasi rahasia yang menyasar kabel dan pipa bawah laut.

Inggris juga menjalin kesepakatan dengan Norwegia untuk memantau pergerakan kapal selam Rusia di Atlantik Utara. Negara ini bergantung pada sekitar 60 kabel bawah laut untuk koneksi komunikasi global.

Selain Rusia, aktivitas kapal China menjadi perhatian setelah laporan kerusakan kabel di sekitar Taiwan dan Laut Baltik.

>>> 6 Inspirasi Layout Taman Belakang Minimalis Lahan Sempit Terbaru 2026

Aliansi Aukus yang dibentuk sejak 2021 bertujuan menjaga stabilitas di Indo-Pasifik dari pengaruh militer China.