Pemerintah Amerika Serikat secara resmi menyetujui dana darurat sebesar USD 9 miliar atau sekitar Rp 143 triliun.

Anggaran ini dialokasikan untuk memperkuat sektor intelijen, terutama dalam kecerdasan buatan (AI).

>>> Masyarakat Akses Kalender Jawa Online Per 1 Juni 2026 Guna Cek Weton

Keputusan tersebut disahkan pada 22 Mei lalu. Dana tersebut akan digunakan untuk membeli chip AI generasi terbaru beserta infrastruktur pendukungnya.

Langkah ini bertujuan agar badan intelijen seperti CIA dan NSA dapat beroperasi dengan teknologi mutakhir.

Mereka ingin mengejar ketertinggalan dari perusahaan teknologi komersial, namun tetap dalam sistem keamanan ketat.

Target Utama Pengadaan Chip Super Nvidia

Sebelumnya, operasional badan intelijen AS terhambat oleh minimnya pasokan semikonduktor canggih. Kelangkaan ini menyulitkan integrasi model AI terbaru ke dalam sistem rahasia pemerintah.

Dana USD 9 miliar akan difokuskan untuk membangun infrastruktur yang kompatibel dengan chip Grace Blackwell buatan Nvidia.

Chip ini memiliki spesifikasi teknis berat sehingga tidak bisa digunakan di server biasa.

Beberapa fasilitas khusus yang diperlukan antara lain:

  • Pusat data raksasa dengan kapasitas pasokan daya listrik besar.
  • Sistem pendingin cair (liquid cooling) modern untuk menjaga suhu perangkat keras.
  • Ruang server khusus untuk menangani beban kerja komputasi AI intensif.

Kebutuhan teknis ini memaksa pemerintah merombak infrastruktur fisik di pusat data. Penyesuaian ini penting agar performa chip Nvidia optimal dalam mengolah data intelijen.

>>> Jadwal Pemulangan Jemaah Haji 2026 Dimulai 1 Juni, Gelombang I Siap Berangkat

Informasi pengajuan anggaran rahasia ini pertama kali diungkap jurnalis The New York Times, Dustin Volz dan Julian E.

Barnes. Laporan mereka bersumber dari pejabat dan mantan petinggi pemerintahan AS.