Bagi kawula muda Jakarta Selatan yang sudah membawa kendaraan pribadi, pilihan nongkrong utama adalah Senayan atau Blok M.

Senayan lebih sering untuk balap liar, sedangkan Blok M untuk bersantai sambil pamer modifikasi mobil.

Kawasan gultik (gulai tikungan) menjadi titik kumpul hits. Komunitas mobil memarkir kendaraan berjejer di sepanjang tikungan, menjadi ajang pamer modifikasi.

Gultik juga menyediakan makanan dengan porsi besar dan harga terjangkau. Suasana nongkrong khas Jakarta Selatan dengan interaksi sosial dinamis.

Sayangnya, porsi gultik kini jauh berkurang. Jumlah pedagang justru semakin menjamur di berbagai sudut.

>>> Alasan Keamanan, Konser Kanye West dan Travis Scott di Italia Resmi Batal

Tyo memiliki memori mendalam tentang berburu buku di kawasan Melawai. Ia sering menyambangi Gramedia Melawai yang kini telah berubah fungsi menjadi Kopi Aloo atau pusat pelatihan Santika.

Perjalanan menuju gedung itu tidak mudah. Ia harus melewati kerumunan di Jalan Melawai 3 yang sangat padat.

Pasar kaget dengan atap terpal rendah membuat sirkulasi udara buruk. Aroma keringat bercampur debu menjadi sensasi tak terlupakan.

Selain toko buku besar, Tyo juga gemar menelusuri lantai dasar Mall Blok M untuk berburu buku bekas.

Tempat ini menjadi andalan saat ia mendapat tugas membuat kliping dari majalah dan surat kabar lama.

Toko buku di basement Mall Blok M juga menyediakan komik dengan konten dewasa atau hentai. Saat SMP, banyak temannya yang datang diam-diam untuk membeli komik tersebut.

Transformasi Menjadi Pusat Kreativitas dan Kuliner Viral

Gadis Hilmi Nabiilah Rose, perantau dari Surabaya, melihat perubahan Blok M sejak 2016. Awalnya, Plaza Blok M terasa redup dan kurang modern.