Blok M kembali menjadi perbincangan di media sosial. Wajahnya kini sangat berbeda dengan masa jayanya di era 1990-an hingga awal 2000-an.

Dulu, kawasan ini identik dengan bus Metro Mini yang penuh sesak dan berkarat. Kini, TransJakarta yang sejuk menjadi pemandangan sehari-hari.

>>> Waspada Virus Mematikan Mirip Covid, 246 Orang Tewas Sekejap di Kongo

Dhani, pria berusia 40 tahun, masih ingat betapa hiruk pikuknya terminal Blok M. Ia sering pergi ke sana bersama keluarga menggunakan Metro Mini dari Tanah Kusir.

Yang paling melekat dalam ingatannya adalah deretan bus dan angkot yang kurang terawat. "Jika tergores badan bus, bisa terkena tetanus," candanya.

Asap hitam pekat dari mesin bus yang menyala saat ngetem juga menjadi kenangan tersendiri. Tyo, 34 tahun, memiliki pengalaman mendebarkan naik Metro Mini menuju pusat pergaulan Jakarta Selatan.

Penumpang harus bersabar menghadapi sopir ugal-ugalan dan waspada terhadap pencopet. Bus sering kelebihan kapasitas dan terasa panas.

Tyo mengibaratkan naik Metro Mini jurusan 69 rute Blok M-Ciledug seperti mempertaruhkan nyawa.

Kecepatannya luar biasa, dan ia sering merasa bus sudah melaju padahal kakinya belum menapak tanah saat turun.

Meski berat, Tyo tidak pernah kapok mengunjungi Blok M. Akses mudah dan fasilitas lengkap menjadi daya tarik bagi anak muda.

Plaza Blok M hadir sebagai destinasi belanja mewah, sementara Mall Blok M lebih merakyat. Pedagang kaki lima juga menjadi daya tarik dengan barang baru, bekas, hingga bajakan.

Tempat Pamer Kendaraan hingga Surga Pecinta Buku

Dhani sempat menghindari Blok M saat SMA karena rivalitas antarsekolah. Namun, saat kuliah ia kembali menjadikannya tempat favorit.