Kronologi Deteksi Kerusakan

Sebelum peristiwa ambles total, titik jalan tersebut sudah menunjukkan tanda-tanda kerusakan sejak beberapa hari sebelumnya.

Pihak Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) mengaku sudah menerima informasi awal dari warga pada Rabu malam.

Menindaklanjuti laporan tersebut, petugas SDA dan Bina Marga melakukan survei lapangan bersama pada Kamis pagi.

Saat itu kerusakan yang terlihat di permukaan jalan barulah berupa aspal yang bergelombang atau tidak rata.

Tim Bina Marga sempat melakukan upaya penanganan darurat dengan meratakan aspal menggunakan teknik pengaspalan ringan. Petugas juga memasang rambu-rambu peringatan agar pengendara lebih waspada.

Sartono menjelaskan bahwa awalnya penambalan aspal diharapkan bisa membuat jalur tersebut tetap aman untuk dilalui sementara.

Sayangnya, karena jalan tersebut merupakan akses utama, beberapa rambu peringatan bahkan sempat tertabrak oleh pengendara.

Kondisi struktur bawah tanah yang ternyata sudah "kopong" atau kosong menyebabkan aspal akhirnya runtuh sepenuhnya pada Kamis malam.

Petugas mengakui kesulitan melakukan inspeksi dini karena kondisi saluran bawah tanah yang terus dialiri air.

>>> Pensiunan Swasta: Kenapa Pesangon Rp385 Juta Ludes dalam 3 Tahun?

Faktor Usia Konstruksi dan Cuaca

Kepala Suku Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jakarta Selatan, Santo, mengonfirmasi bahwa kerusakan ini berkaitan erat dengan usia infrastruktur.

Saluran air di bawah badan jalan Lenteng Agung merupakan konstruksi lama yang sudah menurun kualitasnya.

Selain faktor usia, intensitas hujan yang tinggi belakangan ini juga turut mempercepat penurunan kondisi konstruksi.

Air hujan yang meresap melemahkan struktur penyangga jalan sehingga tidak kuat lagi menahan beban lalu lintas harian yang sangat padat.

Langkah-langkah penanganan yang diambil oleh Pemprov DKI Jakarta: