Perayaan Hari Raya Waisak 2026 di Candi Borobudur menghadirkan suasana berbeda. Fokus peziarah tertuju pada Arca Buddha yang Belum Selesai, yang dikenal sebagai Mbah Belet.

Arca legendaris ini sebelumnya tersimpan di Museum Karmawibhangga. Kini telah dipindahkan ke area terbuka di kawasan Borobudur.

>>> BMKG Peringatkan Gelombang Hingga 4 Meter, Pelayaran Diminta Waspada

Transformasi Ruang Spiritual

Mbah Belet kini ditempatkan di Zona 1, tepatnya di Lapangan Kenari. Arca tersebut berdiri di antara dua pohon kenari besar, menciptakan suasana tenang untuk peribadatan.

Lokasi ini menjadi salah satu titik utama meditasi dan doa menjelang puncak Waisak pada Minggu, 31 Mei 2026.

Peziarah dari berbagai penjuru dunia merasa lebih dekat dengan nilai sejarah arca tersebut.

Proses pemindahan dilakukan melalui upacara sakral bernama Boyongan Ageng pada awal Mei 2026. Acara ini dihadiri Menteri Kebudayaan Fadli Zon, tokoh agama Buddha, umat Buddha, dan masyarakat sekitar.

Misi Pelestarian Makna Budaya

Indira Estiyanti Nurjadin, Kepala Museum dan Cagar Budaya, menjelaskan bahwa pelestarian Borobudur mencakup aspek lebih luas dari bangunan fisik.

Pihaknya berkomitmen merawat nilai-nilai yang hidup di setiap objek sejarah.

Menurut Indira, misi utama adalah memastikan Borobudur tetap menjadi warisan dunia yang relevan bagi masyarakat modern. Hubungan antara sejarah, kebudayaan, dan praktik keagamaan harus terus dijaga.

Arca Buddha yang Belum Selesai ditemukan di dalam stupa induk Candi Borobudur pada tahun 1842 oleh administrator Belanda.

>>> 5 Rekomendasi Kuliner Dekat Malioboro dan Tugu Jogja Terbaru 2026 yang Wajib Dicoba

Kondisi fisiknya tampak tidak selesai dipahat pada bagian tangan dan kaki, sehingga masyarakat menyebutnya Mbah Belet.