Tim peneliti Westlake University di Tiongkok berhasil mengembangkan sistem deteksi portabel berukuran genggam yang dapat mengidentifikasi kanker paru stadium awal hanya dengan setetes darah.

Inovasi ini menyusutkan ukuran peralatan konvensional yang sebelumnya sebesar lemari pendingin menjadi perangkat praktis yang mudah dibawa.

>>> Garena Hadirkan Kembali Bundle Legendary Eclipse Free Fire dengan Desain Futuristik

Sistem baru ini dirancang untuk meningkatkan sensitivitas pemantauan medis secara signifikan.

Paradigma Baru Biosensing Nanofotonik

Pengembangan perangkat ini dipimpin oleh Wen Liaoyong, profesor madya di School of Engineering Westlake University.

Wen memulai riset mandiri di institusi tersebut pada 2019 setelah sebelumnya berkarier di University of Connecticut.

"Penelitian ini menghadirkan paradigma biosensing nanofotonik yang skalabel dan kuat untuk diagnostik mini berperforma tinggi," tulis Wen dalam pengantar makalah penelitiannya.

Penyederhanaan sistem deteksi berhasil dilakukan karena mekanisme baru ini hanya mengukur intensitas cahaya.

Perangkat genggam tersebut hanya mengintegrasikan chip sensor 3D BIC, sumber cahaya LED, dan fotodetektor sehingga dapat digunakan secara mandiri di rumah.

Metode produksi massal diadopsi melalui teknologi cetak wafer delapan inci untuk menekan biaya manufaktur.

>>> Rupiah Melemah ke Rp17.855 per Dolar AS Akibat Tekanan Ekonomi Global

Langkah ini berhasil memangkas biaya pembuatan hingga sekitar US$5 per chip dengan kualitas yang seragam.

Uji Klinis dan Akurasi Tinggi

Dalam pengujiannya, Wen berkolaborasi dengan Xiamen University untuk mendeteksi small extracellular vesicles (sEVs) yang menjadi penanda penting kanker paru-paru.

Karakteristik sEVs pada pasien stadium awal sangat sulit diidentifikasi menggunakan metode tradisional karena jumlahnya yang sangat minim.

Alat portable ini terbukti memiliki tingkat sensitivitas 10.000 kali lebih tinggi dibandingkan metode standar enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA).

Melalui pengujian terhadap 171 sampel serum pasien kanker paru-paru, alat ini mencatatkan akurasi 94,9% untuk deteksi dini dan 92,1% untuk pemantauan pascaoperasi.

Angka tersebut mengungguli metode ELISA tradisional yang hanya mencapai akurasi 74,7%.

Penerapan platform ini juga diproyeksikan memiliki kegunaan yang lebih luas di luar pemindaian tumor.

>>> Erika Carlina Ungkap Putranya Alami DNA Trauma Akibat Stres Kehamilan

"Teknologi manufaktur mikro-nano sebagai teknologi pendukung utama masyarakat informasi modern telah diterapkan secara luas," ujar Wen.