Umat Islam dilarang menjalankan ibadah puasa pada Hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 bulan Zulhijah. Waktu tersebut berlangsung tepat setelah perayaan Idul Adha.

Larangan ini berkaitan dengan suasana Idul Adha yang masih kental. Kaum muslimin dianjurkan untuk menikmati makanan, minuman, serta melaksanakan ibadah kurban.

>>> Crystal Palace Juara Liga Conference Usai Tekuk Rayo Vallecano

Keabsahan puasa bergantung pada pemenuhan syarat tertentu, termasuk waktu yang diperbolehkan.

Buku Seri Fiqih Kehidupan karya Ahmad Sarwat menyebutkan bahwa jika syarat waktu tidak terpenuhi, puasa dianggap tidak sah.

Para ulama memiliki perbedaan pandangan mengenai hukum pastinya.

Sebagian menetapkan hukum haram secara mutlak, sementara sebagian lain menilai makruh dalam kondisi khusus, seperti bagi jemaah haji yang belum mampu membayar dam dan diwajibkan berpuasa tiga hari saat haji.

Larangan berpuasa pada Hari Tasyrik merujuk pada sabda Rasulullah SAW. "Sesungguhnya hari itu (Tasyrik) adalah hari makan, minum, dan zikrullah," demikian hadits riwayat Muslim.

>>> Pemeran Nobody Loves Kay Dorong Dialog Sehat Orangtua dan Anak

Hadits tersebut menegaskan bahwa Hari Tasyrik menjadi momen untuk menikmati hidangan dan memperbanyak zikir.

Ketentuan serupa dikuatkan hadits riwayat An-Nasa'i dari Uqbah bin Amir: "Hari Arafah, hari Idul Adha, dan hari Tasyrik adalah hari raya kita pemeluk agama Islam, serta merupakan hari-hari untuk makan dan minum."

Waktu Lain yang Dilarang untuk Berpuasa

Selain Hari Tasyrik, ada beberapa waktu lain yang tidak diperbolehkan untuk berpuasa. Larangan tersebut meliputi Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.

Umat Islam juga tidak boleh mengkhususkan hari Jumat saja untuk berpuasa. Larangan lain berlaku pada puasa sunnah di paruh kedua bulan Syakban menurut sebagian ulama.

>>> Bima Azriel Ungkap Workshop Mobile Legends dalam Film Nobody Loves Kay

Terakhir, puasa dilarang pada hari syak, yaitu satu atau dua hari menjelang Ramadan.