Miskonsepsi mengenai penggunaan tabir surya masih sering terjadi di kalangan wanita Indonesia. Banyak yang mengira produk dengan SPF tinggi memberikan perlindungan optimal sepanjang hari tanpa perlu diaplikasikan ulang.

Karakter kulit masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki ketahanan alami terhadap sinar matahari berdasarkan skala Fitzpatrick.

>>> OPPO Resmi Luncurkan Find X9 Ultra dan Find X9s dengan Kamera Hasselblad di Indonesia

Skala ini merupakan sistem klasifikasi ilmiah untuk mengelompokkan warna kulit dan reaksinya terhadap sinar UV.

Penjelasan Dokter Eddy Widjaja

Co-founder Eva Mulia Clinic, dr. Eddy Widjaja, menegaskan bahwa perlindungan tambahan tetap diperlukan. Langkah proteksi meliputi penggunaan pakaian tertutup dan tabir surya yang tepat.

"Indonesia kan ini UV indeksnya lumayan tinggi ya. Tapi bagusnya kondisi kulit kita itu ada skala Fitzpatrick, di mana masyarakat Indonesia kuat untuk sinar matahari.

Tapi tetap kita bilang hindari sebisanya, apalagi sekarang yang katanya heat stroke begitu.

Langkah perlindungannya: pakai baju yang menutupi dan pakai sunscreen yang bagus," ungkap dr. Eddy saat grand launching Eva Mulia Priority di Tebet, Jakarta Selatan.

Angka pada SPF tidak menunjukkan kekuatan perlindungan kulit. Nilai tersebut justru menjadi indikator seberapa lama produk dapat memperpanjang waktu ketahanan kulit sebelum terbakar.

"SPF itu sebenarnya kalau cuma untuk aktivitas biasa, bukan olahraga lari atau apa, SPF tingkat standar saya rasa sudah lumayan.

Bedanya, kalau saya kena matahari langsung tanpa perlindungan dalam waktu singkat bisa langsung merah.

Tapi kalau pakai SPF, itu akan memperpanjang waktu kulit sampai bisa kebakar," jelas dr. Eddy.

Pentingnya Re-apply Sunscreen

Mengandalkan satu kali pemakaian tabir surya di pagi hari tidak efektif melindungi kulit hingga sore. Hal ini terutama berlaku bagi individu yang aktif bergerak di luar ruangan.