Stres dan Absennya Pelayuan Akibatkan Daging Kurban Alot

Stres pada hewan sebelum disembelih serta absennya proses pelayuan menjadi pemicu utama tekstur daging kurban yang keras atau alot.
Fenomena tahunan ini memiliki penjelasan ilmiah terkait perubahan struktur otot hewan pasca-penyembelihan.
>>> Lagu Masa Depanmu Mhd Daniel Viral di TikTok dan Spotify
Hal tersebut diungkapkan oleh Guru Besar Teknologi Pangan IPB University, Prof Dr Ir Purwiyatno Hariyadi, MSc. , di Jakarta Selatan pada Selasa (19/5/2026).
Menurut Prof Purwiyatno, setelah hewan disembelih, otot memasuki fase kekakuan yang disebut rigor mortis.
Faktor eksternal seperti rasa takut saat melihat pisau potong turut memicu pengerutan struktur otot secara maksimal.
"Daging kurban itu setelah dipotong langsung didistribusikan dan dimasak. Padahal, setelah disembelih, terjadi fase kekakuan otot yang disebut rigor mortis.
Faktor stres pada binatang saat disembelih, misalnya karena diperlihatkan pisau, juga memicu pengerutan struktur otot yang membuat daging jadi lebih alot," jelas Prof Purwiyatno.
Dampak stres sebelum penyembelihan ini sejalan dengan studi dalam jurnal Meat Science. Riset tersebut membuktikan bahwa stres menguras habis pasokan glikogen pada otot hewan ruminansia.
>>> Daffa Ardiansa dan Gerrard Carlton Wakili Indonesia di Sodi World Series
Kondisi glikogen yang rendah menyebabkan penurunan kadar keasaman (pH) daging pasca-kematian tidak berjalan optimal. Akibatnya, kontraksi maksimal pada otot menghasilkan tekstur daging yang keras, kering, dan kaku.
Pada rumah potong hewan modern, daging umumnya melalui proses pelayuan suhu terkontrol selama 24 hingga 48 jam agar enzim alami mengurai kekakuan.
Namun, distribusi kurban di masyarakat menuntut proses cepat sehingga fase relaksasi ini terlewati.
Sebagai solusi di rumah, Prof Purwiyatno menyarankan agar daging yang baru diterima tidak langsung dimasak, melainkan diangin-anginkan dalam kondisi bersih terlebih dahulu.
Langkah ini memberikan waktu bagi otot daging untuk mengalami relaksasi alami dan melunak secara bertahap.
"Namun yang paling penting bagi saya adalah aspek safety-nya (keamanan pangan) dan kebersihannya.
>>> John Herdman Panggil 23 Pemain untuk Pemusatan Latihan Timnas Indonesia
Kalau kualitas keempukannya berkurang sedikit tidak apa-apa, apalagi kebiasaan memasak kita di Indonesia umumnya menuju ke over cooking (sangat matang) atau nanti dihangatkan lagi," pungkasnya.
Update Terbaru
Julian Alvarez Beri Sinyal Ingin Tinggalkan Atletico Madrid
Rabu / 27-05-2026, 16:20 WIB
PT Mobil Anak Bangsa Rakit Mobil Listrik Mikro Solarky Sun V Berpanel Surya
Rabu / 27-05-2026, 16:19 WIB
OPPO Luncurkan Enco Clip2 dan Watch X3 untuk Pasar Indonesia
Rabu / 27-05-2026, 16:19 WIB
Samsung Patenkan Dua Konsep HP Layar Gulung dan Sliding Terbaru
Rabu / 27-05-2026, 16:19 WIB
Perguruan Tinggi Dituntut Sesuaikan Metode Pembelajaran untuk 2030
Rabu / 27-05-2026, 16:19 WIB
Huawei Indonesia Salurkan 75 Hewan Qurban ke 15 Masjid
Rabu / 27-05-2026, 16:19 WIB
Bioskop Trans TV Tayangkan Baby Driver 25 Mei 2026
Rabu / 27-05-2026, 16:18 WIB
Ssharad Sharaan dan Viva Westi Sutradarai Film Suamiku Lukaku
Rabu / 27-05-2026, 16:18 WIB
Gernot Rohr Akui Gagal Rayu Michael Olise Perkuat Timnas Nigeria
Rabu / 27-05-2026, 16:18 WIB
Cara Klaim Kode Redeem FF ShopeePay Diamond Gratis April 2026
Rabu / 27-05-2026, 16:17 WIB
Santos Tundukkan Deportivo Cuenca Tiga Gol Tanpa Balas di Brasil
Rabu / 27-05-2026, 16:15 WIB
Joe Mazzulla Resmi Raih NBA Coach of the Year 2025-2026
Rabu / 27-05-2026, 16:15 WIB
60 Kata Romantis Sepak Bola dan Cinta untuk Pasangan Pencinta Bola
Rabu / 27-05-2026, 16:14 WIB
Kisah Nada Zahrah, Remaja 19 Tahun Bangun Kedai Rumahan demi Bantu Keluarga
Rabu / 27-05-2026, 16:14 WIB






