Kesuksesan Arsenal meraih gelar juara Liga Inggris musim 2025/2026 membuat linimasa media sosial memanas. Gooners merayakan kesuksesan Mikel Arteta setelah 22 tahun menanti.

Namun, ada sekumpulan fans klub lain yang sibuk menyindir dan tampak kesal melihat rivalnya berpesta.

>>> Kalender Jawa 27 Mei 2026: Weton Rabu Wage Berneptu 11

"Arsenal katanya juara liga inggris, tp kok sepi amat, ga ada yg peduli apa ya?" tulis salah satu akun di Threads, dikutip detikcom Selasa (26/5/2026).

"Jujur lucu dan agak gimana gitu, liat postingan dan komenan fans lain tentang Arsenal. Rasanya kayak gerah bener liat Arsenal juara," tulis akun lain.

Penjelasan Psikologis

Menurut psikiater dr Lahargo Kembaren, SpKJ, ketidaksukaan melihat rival bahagia sebenarnya manusiawi dalam rivalitas olahraga. Hal ini wajar selama hanya sekadar candaan atau bagian dari identitas penggemar.

"Ketika Arsenal justru juara, muncul ketidaknyamanan psikologis karena realita tidak sesuai harapan. Dalam psikologi disebut cognitive dissonance," kata dr Lahargo saat dihubungi detikcom, Selasa (26/5/2026).

Dr Lahargo mewanti-wanti agar jangan sampai kebablasan dalam mengelola emosi.

>>> Promo Alfamart 24-31 Mei 2026: Diskon Spesial Produk Harian

Alih-alih bercanda, hal ini justru bisa merugikan diri sendiri karena dapat menjadi stres dari hal yang sebenarnya tidak perlu.

"Selama masih dalam batas bercanda dan hiburan tentu normal.

Tetapi kalau sampai memicu kebencian berlebihan, stres, atau toxic terus-menerus, itu menunjukkan regulasi emosinya mulai kurang sehat," kata dr Lahargo.

"Karena pada akhirnya olahraga seharusnya menjadi sarana hiburan, relasi sosial, dan pelepas stres, bukan sumber permusuhan berkepanjangan," tambahnya.

>>> Julian Alvarez Tegaskan Ambisi Argentina Pertahankan Gelar Piala Dunia 2026

Menurut dr Lahargo, sepakbola bukan hanya soal menang dan kalah. Kadang ia menjadi tempat manusia mencari rasa memiliki, harapan, dan kebersamaan.