Perkembangan bahasa anak merupakan fondasi penting bagi kemampuan komunikasi mereka di masa depan. Orang tua perlu memahami cara stimulasi yang tepat sesuai tahap usia.

Ahli patologi wicara Adena Dacy, MS, CCC-SL, menyatakan bahwa tonggak perkembangan komunikasi saling berkaitan dan membantu orang tua memantau perkembangan anak.

>>> 5 Pengalaman Work&Life Reset Terbaik di Australia Barat

Stimulasi Bahasa untuk Bayi

Vokalisasi atau ocehan bayi adalah bentuk komunikasi awal yang menjadi dasar kemampuan berbahasa. Orang tua dapat merespons dengan mengajak bayi berbicara sambil memadukan gerakan tubuh atau suara pendukung.

Bernyanyi bersama juga efektif untuk melatih kemampuan bahasa.

Penelitian dalam jurnal Infant Behavior and Development menunjukkan hubungan antara lingkungan kaya musik dengan peningkatan keterampilan komunikasi pada bayi.

Bayi memiliki kepekaan tinggi terhadap perubahan nada, volume, dan ritme suara. Interaksi ini melatih mereka mengaitkan bunyi dengan makna, misalnya menangis akan mendatangkan orang tua.

Menurut Cortese dari Child Mind Institute, hal ini mendorong bayi untuk mulai berkomunikasi secara sengaja melalui menunjuk, bahasa tubuh, dan mengeluarkan lebih banyak suara.

Stimulasi Bahasa untuk Usia 18 Bulan–2 Tahun

Pada rentang usia ini, pola komunikasi anak berubah signifikan. Sebagian anak telah menguasai 10 hingga 50 kata, mengikuti perintah sederhana, dan merangkai frasa dua kata.

>>> Lima Trik Dapur Sederhana Atasi Bau Prengus Daging Kambing

Membaca buku bergambar secara rutin efektif memperkaya kosakata.

Penelitian dari Journal of Speech, Language, and Hearing Research mengaitkan aktivitas membaca dengan hasil perkembangan bahasa yang lebih baik.

Orang tua juga bisa menceritakan runtunan aktivitas sehari-hari, seperti melipat pakaian atau membuat sarapan. Pemaparan bahasa deskriptif membantu anak mengaitkan kata dengan tindakan atau benda di sekitarnya.

Stimulasi Bahasa untuk Usia 2–5 Tahun

Metode stimulasi perlu disesuaikan saat anak memasuki usia sekolah. Bermain peran atau pretend play, seperti menjadi koki atau dokter, efektif mendukung imajinasi dan kemampuan bercerita.

Orang tua disarankan memberikan pertanyaan terbuka yang memerlukan penjelasan, bukan sekadar jawaban ya atau tidak. Hindari koreksi langsung jika penggunaan kata anak belum tepat.

>>> Umat Islam Dianjurkan Memperbanyak Doa pada Hari Arafah 9 Zulhijjah

Sebagai alternatif, ulangi kalimat anak dengan susunan kata yang telah diperbaiki secara natural. Pendekatan ini membantu anak memahami struktur bahasa tanpa merasa dihakimi.