Setiap anak memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan emosi, mulai dari menangis, marah, diam, hingga perubahan perilaku. Lantas, bagaimana cara memvalidasi perasaan anak?

Validasi emosi bukan berarti selalu menyetujui semua tindakan anak. Ini tentang menunjukkan bahwa perasaan mereka dapat dipahami dan diterima.

>>> Mbappe Cetak Rekor Langka Piala Dunia, Tak Bisa Ditiru Ronaldo-Messi

Ketika anak merasa didengar, hubungan orang tua dan anak menjadi lebih dekat serta penuh kepercayaan. Sebaliknya, respons yang mengabaikan emosi dapat membuat anak merasa tidak dipahami.

Tips Memvalidasi Perasaan Anak

Berikut enam tips memvalidasi perasaan anak agar mereka merasa dipahami, dikutip dari Rady Children's Health.

1. Dengarkan anak dengan penuh perhatian.

Jadilah pendengar aktif saat anak bercerita. Luangkan waktu tanpa gangguan, tunjukkan kontak mata, dan hindari penggunaan ponsel.

Gunakan pertanyaan terbuka seperti, "Apa yang terjadi hari ini?" atau "Bagaimana perasaanmu?"

agar anak nyaman menjelaskan.

2. Perhatikan reaksi dan respons diri sendiri.

Orang tua sering ingin langsung memberi solusi, padahal anak mungkin hanya butuh didengarkan.

Hindari respons seperti mengabaikan, bercanda, atau berkata "jangan khawatir" tanpa memahami masalah. Kalimat seperti "semuanya akan baik-baik saja" bisa membuat anak merasa emosinya tidak dianggap serius.

3. Coba pahami perasaan yang tersembunyi.

Anak belum selalu bisa menjelaskan emosinya dengan jelas. Di balik kata "menyebalkan" atau "tidak adil", mungkin ada perasaan sedih, kecewa, takut, atau kewalahan.

>>> Kapolri Lantik Enam Kapolda dan Kakorlantas Polri Baru

Orang tua perlu membaca situasi dan memahami emosi yang lebih dalam. Misalnya, saat anak mengatakan tidak punya teman, ia mungkin merasa kesepian atau tidak percaya diri.