4. Tunjukkan bahwa perasaan anak valid.

Setelah memahami emosi anak, cerminkan kembali perasaan tersebut tanpa penilaian.

Contoh kalimat validasi: "Kedengarannya kamu mengalami hari yang sulit," "Wajar kalau kamu kecewa," atau "Aku bisa memahami kenapa kamu sedih."

5. Lihat situasi dari sudut pandang anak.

Orang tua tidak harus setuju dengan pemikiran anak, tetapi cobalah melihat dari pengalaman mereka. Hal sederhana bagi orang dewasa bisa menjadi masalah besar bagi anak.

6. Tunjukkan bahwa perasaan anak diperhatikan.

Setelah mendengar, tanyakan apa yang mereka butuhkan. Misalnya, "Apa yang bisa Mama/Papa lakukan?"

atau "Kamu ingin didengarkan saja atau mencari solusi bersama?"

Bentuk dukungan setiap anak berbeda. Ada yang nyaman dengan pelukan, waktu bersama, atau catatan penyemangat.

Memvalidasi emosi anak membutuhkan proses dan latihan.

>>> Mobil Elektrifikasi Dinilai Lebih Berkelanjutan Dibanding Program B50

Orang tua tidak harus selalu sempurna, tetapi berusaha mendengarkan, memahami, dan menunjukkan kepedulian sudah menjadi langkah penting membangun hubungan yang lebih kuat.