Nama-nama peneliti yang tercantum disebut seluruhnya berasal dari Indonesia tanpa melibatkan kolaborator lokal dari negara tempat penelitian dilakukan.

Selain itu, dokumen penelitian yang beredar juga disebut tidak mencantumkan persetujuan etik maupun kerja sama institusi setempat.

Afiliasi lembaga yang digunakan dalam karya ilmiah tersebut ikut dipertanyakan karena dianggap tidak lazim dan disebut memiliki pola penulisan yang mencurigakan.

Unggahan itu juga menyinggung dugaan motif ekonomi di balik kasus tersebut. Para terduga pelaku disebut memanfaatkan presentasi ilmiah untuk memperoleh travel grant sehingga bisa mengikuti konferensi luar negeri tanpa biaya pribadi besar.

Isu ini memicu reaksi keras di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan proses verifikasi penelitian dalam forum internasional dan menyoroti dampaknya terhadap reputasi akademik Indonesia.