Kebijakan Ekspor Satu Pintu DSI Kacaukan Rantai Pasok Sawit
Petani swadaya yang menguasai sekitar 40% lahan sawit Indonesia mulai meninggalkan pemupukan tanaman karena anjloknya harga di tingkat petani tidak lagi mampu menutup tingginya biaya produksi.
Serikat pekerja independen memperingatkan bahwa strategi sentralisasi ini menyerupai kegagalan regulasi masa lalu yang memiskinkan komunitas petani lokal.
>>> Sule Bantah Tudingan Lempar Skrip ke Wajah Kru TV
"Situasi memburuk setelah beberapa perusahaan mulai menahan pembelian dan menghentikan penjualan untuk sementara waktu," kata Ketua Umum SPKS Sabarudin dalam rilis resmi tertulis pada Senin, 25 Mei 2026.
Sabarudin memperingatkan bahwa kebijakan satu pintu menciptakan monopsoni berbahaya yang langsung menekan harga petani.
Ia menambahkan bahwa kebuntuan yang berkepanjangan akan membuat petani meninggalkan tanaman tersebut sepenuhnya, berkaca pada kehancuran parah tahun 2015.
Keruntuhan struktural ini mengancam target transisi energi pemerintah.
Jika petani swadaya menghentikan produksi, negara akan menghadapi defisit bahan baku yang serius sehingga dapat menggagalkan mandat biodiesel B50.
Inti dari krisis ini berakar pada ketiadaan panduan teknis mengenai cara DSI mengelola logistik perdagangan.
Pengusaha pabrik swasta dan pembeli internasional belum mendapatkan kejelasan mengenai mekanisme penyelesaian pembayaran, formula penetapan harga acuan, serta alokasi risiko perusahaan.
Ketua Umum POPSI Mansuetus Darto menyoroti dampak negatif dari kebijakan ini dan menilai mekanisme pasar standar telah rusak akibat spekulasi.
"Akar masalah saat ini adalah ketidakjelasan regulasi dan mekanisme implementasi kebijakan," ujar Darto dalam pengarahan darurat industri pada Senin, 25 Mei 2026.
Darto menambahkan bahwa pelaku usaha tidak mengetahui secara pasti bagaimana mekanisme perdagangan, pembayaran, formulasi harga, dan pembagian risiko bisnis akan dijalankan.
Untuk mencegah kehancuran industri secara penuh, POPSI mendesak pemerintah segera mencabut monopoli perdagangan DSI.
>>> Kurs Rupiah 26 Mei 2026 Melemah Tipis ke Rp17.749 per Dolar AS
Organisasi tersebut menyarankan agar lembaga negara itu dibatasi pada peran administratif dan pemantauan data demi memulihkan kepercayaan pasar global.
Update Terbaru
BYD Denza D9 Catat Penjualan 10.000 Unit di Indonesia
Selasa / 26-05-2026, 11:49 WIB
Chery Siap Ekspansi ke Pasar Mobil AS, Hambatan Regulasi Masih Jadi Kendala
Selasa / 26-05-2026, 11:49 WIB
Ilmuwan Ungkap Suhu Inti Bumi Setara Panas Permukaan Matahari
Selasa / 26-05-2026, 11:48 WIB
Vivo Ekspansi ke Pasar Audio Premium dengan Headphone Wireless Over-Ear Pertama
Selasa / 26-05-2026, 11:48 WIB
Kurma Lebih Sehat dari Gula Pasir? Ini Penjelasan Ahli Gizi
Selasa / 26-05-2026, 11:48 WIB
Pep Guardiola Pamit dari Manchester City dalam Parade Pesta Perpisahan
Selasa / 26-05-2026, 11:48 WIB
Harga Emas Pegadaian 26 Mei 2026: Antam Naik, UBS dan Galeri 24 Turun
Selasa / 26-05-2026, 11:44 WIB
GWM Indonesia: Kenaikan Harga Solar Tak Ganggu Penjualan SUV Premium
Selasa / 26-05-2026, 11:44 WIB
Terlalu Bergantung pada Aplikasi Navigasi, Banyak Kendaraan Tersesat di Jalan Sempit
Selasa / 26-05-2026, 11:44 WIB
Paus Leo Serukan Pembatasan AI di Medan Perang dalam Ensiklik Perdana
Selasa / 26-05-2026, 11:44 WIB
Poster Xiaomi 17T Muncul di Toko Online, Fitur Kamera Premium Terungkap
Selasa / 26-05-2026, 11:44 WIB
Hogwarts Legacy 2 Diprediksi Rilis Bersama Serial HBO pada 2027
Selasa / 26-05-2026, 11:43 WIB
20 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 26 Mei 2026: Klaim Jutaan Koin dan Rank Up
Selasa / 26-05-2026, 11:43 WIB
Marvel Studios Ganti Pemeran Anak Frank Castle di Tayangan Spesial Disney+
Selasa / 26-05-2026, 11:43 WIB






