Huawei Siapkan Strategi Baru Kembangkan Chip Mandiri Melalui Scaling Law
Huawei dilaporkan tengah menyiapkan strategi jangka panjang untuk mempertahankan pengembangan semikonduktor di tengah pembatasan teknologi dari Amerika Serikat.
Perusahaan teknologi asal Tiongkok itu menargetkan kemampuan produksi chip 14 nanometer (nm) secara mandiri pada 2031.
>>> The Resurrection of the Christ: Jadwal Tayang, Sinopsis, dan Daftar Pemain
Raksasa teknologi ini juga memperkenalkan pendekatan baru terkait scaling law atau hukum penskalaan semikonduktor.
Langkah tersebut diambil saat industri chip Tiongkok terus menghadapi keterbatasan akses terhadap teknologi litografi ekstrem ultraviolet (EUV) dari ASML.
Pembatasan ekspor dari pemerintah Amerika Serikat membuat sejumlah perusahaan Tiongkok kesulitan memperoleh perangkat manufaktur chip paling mutakhir.
Perangkat tersebut sebenarnya sangat dibutuhkan untuk produksi node canggih seperti 7nm dan di bawahnya.
Huawei mengembangkan konsep scaling law baru yang tidak hanya bergantung pada penyusutan ukuran transistor sebagaimana pendekatan tradisional dalam industri semikonduktor.
Strategi tersebut dikabarkan memanfaatkan kombinasi arsitektur chip, optimasi perangkat lunak, serta integrasi sistem.
Kombinasi ini ditujukan untuk meningkatkan performa komputasi tanpa harus sepenuhnya mengejar node paling kecil.
Pendekatan itu muncul ketika hukum Moore atau Moore's Law mulai menghadapi tantangan teknis dan biaya produksi yang semakin tinggi.
Dalam industri semikonduktor, Moore's Law merujuk pada prediksi bahwa jumlah transistor dalam sebuah chip akan berlipat ganda setiap sekitar dua tahun untuk meningkatkan performa dan efisiensi.
Namun, proses menuju node lebih kecil kini membutuhkan investasi sangat besar dan teknologi manufaktur yang sangat kompleks.
Huawei sendiri sebelumnya telah menjadi sorotan industri setelah meluncurkan smartphone seri Mate 60 yang menggunakan chipset buatan domestik Tiongkok.
Kehadiran chip itu memicu perhatian pemerintah Amerika Serikat karena dianggap menunjukkan kemajuan industri semikonduktor Tiongkok di tengah embargo teknologi.
Update Terbaru
Pria Idaho Selamat dari Gigitan Ular Berbisa setelah Menerima 54 Dosis Antivenom
Jumat / 10-07-2026, 17:59 WIB
Mobil Tabrak Kantor Pos di San Antonio, Layanan Dialihkan
Jumat / 10-07-2026, 17:57 WIB
Huey Lewis: Kehilangan Pendengaran Total Akibat Penyakit Ménière
Jumat / 10-07-2026, 17:57 WIB
Gugatan Class Action: Costco Didakwa Jual Protein Powder Mengandung Logam Berat
Jumat / 10-07-2026, 17:56 WIB
Ann Widdecombe, Mantan Menteri Konservatif, Meninggal di Usia 78
Jumat / 10-07-2026, 17:56 WIB
Muchova dan Noskova Bersaing di Final Wimbledon All-Czech
Jumat / 10-07-2026, 17:56 WIB
IHSG Naik Tipis ke 5.924 Akhiri Pekan Ini
Jumat / 10-07-2026, 17:56 WIB
Kejati DIY Data Seluruh SPPG di Yogyakarta atas Permintaan Pidsus Kejagung
Jumat / 10-07-2026, 17:56 WIB
US Navy Hentikan Pengecualian Cukur Permanen, Personel dengan Kondisi Kulit Kronis Diancam Dipisahkan
Jumat / 10-07-2026, 17:54 WIB
Studi Ungkap Terapi Obesitas Pangkas Berat Badan Hampir 28 Persen
Jumat / 10-07-2026, 17:54 WIB
Ilmuwan Ciptakan Kecoa Cyborg yang Bisa Menyelam Selama 3 Jam
Jumat / 10-07-2026, 17:54 WIB
IU dan Lee Jong Suk Dikonfirmasi Putus, Ini Perjalanan Cinta Mereka
Jumat / 10-07-2026, 17:50 WIB
Pendiri id Software Sesali Dukungannya pada Microsoft Setelah PHK Massal
Jumat / 10-07-2026, 17:49 WIB
Revosim Gear Shifter dan Handbrake: Awal yang Baik untuk Ekosistem Sim Racing, Tapi Harga Mulai Membengkak
Jumat / 10-07-2026, 17:49 WIB







