Produsen otomotif Jaecoo memastikan tidak mengubah harga jual kendaraan mereka di Indonesia meskipun nilai tukar rupiah terhadap dollar AS sedang melemah.

Keputusan ini diambil demi menjaga daya beli konsumen di tengah fluktuasi mata uang yang menekan industri otomotif nasional.

>>> Drifter Kembar Alby dan Athariz Naik Kelas ke Kategori PRO AM

Kondisi pasar otomotif saat ini menghadapi tantangan berat akibat fluktuasi kurs, terutama bagi merek yang mendatangkan unit maupun komponen secara impor.

Data pasar spot pada Jumat (22/5/2026) menunjukkan rupiah merosot 50 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp 17.717 per dollar AS.

Situasi ini memicu indikasi penyesuaian harga dari beberapa agen pemegang merek, khususnya untuk lini kendaraan Completely Built Up (CBU).

Namun, penyesuaian harga belum diberlakukan oleh Jaecoo untuk model andalan seperti Jaecoo J5 EV.

Pimpinan perusahaan menyatakan bahwa fluktuasi mata uang merupakan persoalan kolektif yang tengah melanda para pelaku industri saat ini.

Perusahaan berkomitmen untuk menunjukkan tanggung jawab tinggi terhadap konsumen di pasar domestik.

"Menurut saya semua orang sedang menghadapi masalah besar terkait mata uang.

Tapi maksud saya, kami adalah merek yang sangat bertanggung jawab, baik dari Jaecoo maupun dari Chery Indonesia," ujar Jim Ma, Business Unit Director Jaecoo Indonesia.

>>> Changan Siap Bawa Mobil Listrik REEV Deepal S05 ke Indonesia

Langkah mempertahankan harga ini menjadi strategi korporasi agar produk yang ditawarkan tetap kompetitif di pasar.

Manajemen berupaya memastikan fluktuasi nilai tukar tersebut tidak langsung dibebankan kepada para pembeli.

"Jadi, meskipun nilai tukar mata uang sangat tidak menentu sejauh ini, kami akan memberikan harga yang tepat kepada pelanggan kami agar mereka tetap bisa memilih Jaecoo J5," kata Jim Ma.