Fenomena perpindahan penggemar dan artis muda dari K-pop ke musik trot semakin marak di Korea Selatan. Trot, genre yang dulu dianggap kuno, kini menarik perhatian generasi muda.

Seorang penggemar berinisial Kim mengaku meninggalkan K-pop setelah merasa diperlakukan seperti penjahat oleh agensi.

>>> Ramalan Zodiak Gemini dan Cancer 25 Mei 2026: Perubahan Peta Keuangan

Ia pernah diperiksa tubuhnya saat fan meeting dan didorong hingga jatuh oleh bodyguard di bandara.

“Mengapa saya harus terus menjadi penggemar jika diperlakukan seperti ini?” ujar Kim.

Ia kemudian beralih ke trot dan menjadi penggemar penyanyi Lim Young-woong.

Kata “Chandala” atau “tak tersentuh” sering digunakan penggemar K-pop untuk menggambarkan perlakuan agensi. Keluhan muncul karena agensi dianggap tidak menghargai waktu dan uang yang dikeluarkan penggemar.

Di sisi lain, budaya trot sangat menghargai penggemar. Di konser trot, tenda disediakan untuk penggemar lanjut usia, dan staf rela menggendong mereka.

Hal ini kontras dengan K-pop yang terkesan kaku dan penuh aturan.

Tak hanya penggemar, artis muda pun mulai melirik trot.

Ha Dong-geun, yang debut sebagai penyanyi trot di usia 20-an, memilih genre itu agar bisa terus tampil di panggung seiring bertambahnya usia.

Biaya Produksi K-pop Melonjak, Peluang Menyempit

Biaya produksi K-pop meningkat drastis.

Contohnya, video musik “Super Lady” milik (G)I-DLE menghabiskan 1,1 miliar won, lima kali lipat dari biaya di era 2000-an.

Akibatnya, hanya grup dari agensi besar yang bisa bertahan di tangga lagu. Tahun lalu, tujuh dari 20 lagu teratas adalah dari agensi besar.

>>> Shakira Rilis Video Musik Resmi 'Dai Dai' untuk Piala Dunia 2026